Contoh Laporan Praktek Kerja Lapangan SMK Pelayaran


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL).

Penyusunan laporan ini disajikan dalam bentuk yang singkat dan ringkas dengan harapan agar jelas dan mudah untuk dipahami oleh pembaca. Dalam laporan ini penulis lampirkan beberapa pelajaran dari sekolah serta hasil tambahan yang penulis dapatkan selama melaksanakan PKL. Penulisan laporan ini diajukan untuk memenuhi syarat Ujian Nasional.

Dalam penulisan laporan tidak lepas dari hambatan dan kesulitan, namun berkat bimbingan, bantuan, nasihat, saran, dan dorongan serta kerjasama dari berbagai pihak, khususnya pembimbing. Segala hambatan tersebut akhirnya dapat diatasi dengan baik.
Dalam kesempatan ini, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Muhammad Zuharly sebagai Nahkoda KMP Mutiara Barat.
2. Bapak Capt Anwar M.Mar sebagai chief officer KMP Mutiara Barat.
3. Bapak Achmad Suryono,ST sebagai Kepala SMK Pelayaran Satria Bahari Bandarlampung.
4. Bapak Irawan Gunadi, ST sebagai Wakil Kepala Bidang Kurikulum.
5. Bapak Hi.Nurul Rifa’i Suardi, MPB 2 sebagai Guru Pembimbing mata pelajaran Hitung Ilmu Pelayaran dan Peraturan Pencegahan Tubrukan di Laut.
6. Ibu Dra. Hj. Elianingsih sebagai guru pembimbing penulis laporan.
7. Ibu Widya Gusti Setyaningrum S.Pd sebagai Wali Kelas II Nautika.
8. Dan semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dorongan kepada penulis.
Penulis yakin dalam penulisan laporan ini masih banyak kekurangan. Oleh sebab itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangatlah penulis harapkan untuk kesempurnaan penulisan laporan dimasa yang akan datang.

Bandar lampung, …………………………. 2017

Penulis

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ……….i
IDENTITAS PESERTA PKL ………..ii
IDENTITAS PERUSAHAAN DAN KAPAL ……..iii
KATA PENGANTAR ………iv
DAFTAR ISI ……….v

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ………..1
1.2 Tujuan Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ……3
1.2.1 Tujuan Umum ………..3
1.2.2 Tujuan Khusus ……….3
1.3 Ruang Lingkup Praktek Kerja Lapangan (PKL) ……….5

BAB II TINJAUAN UMUM
2.1 Sejarah Singkat Perusahaan ………..6
2.2 Identitas Perusahaan dan Kapal ………….7
2.3 Struktur Organisasi ALP ……………9
2.4 Identitas Kapal/Ships Particural ……………10
2.4.1 Data Kapal ………..10
2.4.2. Ukuran Utama Kapal ……..11

2.4.3 Kapasitas Tanki …………….11
2.4.4 Mesin Utama …………11
2.4.5 Mesin Bantu ………..11
2.4.6 Generator ………12
2.4.7 Kapasitas Muatan ……….12

BAB III TINJAUAN KHUSUS
3.1 Navigasi ………..13
3.1.1 Alat-Alat Navigasi Kapal ……….14
3.1.2 Alat-Alat Keselamatan Kapal ……14
3.2 Sarana Komunikasi (Isyarat) ……….16
3.3 Menjangka Peta ……….18
3.3.1 Penentu Posisi Kapal ………….20
3.3.2 Peta Laut …………21
3.3.3 Merencanakan Jalannya Pelayaran ………22
3.4 Memuat ………..22
3.5 Stabilitas ………….23
3.6 Bangunan Kapal ………….25
3.6.1 Bagian-Bagian Kapal …………27
3.7 Perlengkapan Kapal ………….29
3.8 Hukum Maritim …………29
3.9 Meteorologi …………30
3.9.1 Oceanografi ……………32

3.10 Peraturan Pencegahan Tubrukan di Laut (P2TL) ……33

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan …………..35
4.2 Saran ………….35

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) merupakan kurikulum pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang bertujuan meningkatkan keahlian dalam bidang ilmu pengetahuan dan etika dalam dunia kerja untuk mencapai keahlian kerja yang dapat digunakan sebagai bekal dalam

kehidupan mendatang untuk dapat bekerja secara profesional.
Praktek kerja lapangan merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sistematis program pendidikan di sekolah dengan program penguasaan keahlian melalui kegiatan bekerja secara langsung dan terarah untuk mencapai tingkat keahlian profesional tertentu.

Kurikulum SMK edisi 2006 lebih meningkatkan kualitas lulusan sekolah menengah kejuruan, dengan kurikulum ini diharapkan jajaran pendidikan menengah kejuruan lebih mampu mengembangkan potensi anak didik sehingga saat bekerja, terbentuk pribadi yang mandiri, mampu memanfaatkan diri sebagai masyarakat dan warga negara, sebagai bagian dari lingkungan dan sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa.

Berdasarkan kurikulum pendidikan tahun 2006 seluruh siswa SMK kelas XI semester IV diwajibkan melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang didalam ketentuannya diatur waktu pelaksanaan PKL ± 1 bulan. Taruna-Taruni SMK Pelayaran Satria Bahari telah melaksanakan PKL tersebut. Tetapi, karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan maka PKL dilaksanakan selama 1 minggu di KMP Mutiara Sentosa III.

Pelaksanaan PKL ini tercantum dalam Keputusan Kepala SMK Pelayaran Satria Bahari yang berbunyi : “Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada dasarnya merupakan kegiatan intrakurikuler dan wajib diikuti sebagai persyaratan untuk mengikuti Ujian Nasional dan Ujian Sekolah.

Landasan hukum Praktek Kerja Lapangan (PKL) berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mendasari dan menjadi acuan dalam pelaksanaan PKL adalah :

1. UUD 1945;
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
3. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 323/U/1997 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda Pada Sekolah Menengah Kejuruan.
4. Surat Keputusan Ketua Yayasan Pendidikan Pusaka Lampung No. 175/YPL/II/2006 tanggal 28 Februari tentang pengangkatan kepala sekolah;
5. Sertifikat Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Laut No. B.086/DL/102/PDL-2010 tentang rekomendasi penyelenggaraan Diklat Keahlian Pelaut Tingkat IV bahwa SMKP Satria Bahari Bandar Lampung memungkinkan untuk melaksanakan kegiatan PKL.
6. Ketentuan-ketentuan lain (yang akan disusun) berkaitan dengan sistem pendidikan nasional Indonesia pada umumnya dan pendidikan menengah kejuruan pada khususnya.

1.2 Tujuan Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL)

1.2.1 Tujuan Umum
Tujuan umum PKL bagi siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai berikut :
1. Sebagai salah satu bentuk latihan dalam menghadapi Ujian Kompetensi;
2. Sebagai salah satu persyaratan untuk mengikuti Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah (US);
3. Untuk memenuhi kurikulum pendidikan.

1.2.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus PKL bagi taruna dan taruni sebagai berikut :
1. Taruna / Taruni dapat memperoleh kemantapan pengetahuan cara melaksanakan PKL di industri perkapalan yaitu :
a. Taruna / Taruni dapat membandingkan dalam penerapan pengetahuan teori maupun praktek yang diperoleh di sekolah dengan kesesuaian kenyataan pelaksanaan PKL;
b. Taruna / Taruni dapat menambah / memperoleh pengetahuan tentang bahan dan peralatan yang dipergunakan di kapal.
2. Taruna / Taruni memiliki keterampilan melaksanakan pekerjaan di industri perkapalan yaitu :
a. Taruna / Taruni dapat membedakan cara kerja masing-masing peralatan kapal;
b. Taruna / Taruni dapat menggunakan jenis-jenis peralatan kapal;
c. Taruna / Taruni dapat memperoleh kemantapan keterampilan yang diperoleh dari PKL.
3. Taruna / Taruni dapat bersikap mandiri dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas pelayaran yaitu :
a. Taruna / Taruni bersikap disiplin, teliti, bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas yang dibebankan;
b. Taruna / Taruni memiliki sikap kreatif dan inisiatif untuk mengembangkan dan menerima kemajuan teknologi.
4. Memberikan kesempatan Taruna / Taruni untuk bermasyarakat dan mengenal pada suasana lingkungan kerja sebenarnya.
5. Sebagai bekal untuk melanjutkan ke tahap berikutnya yaitu Ujian Negara Kepelautan dan melaksanakan Proyek Laut (PROLA).
6. Meningkatkan, memperluas, dan memantapkan sebagai proses untuk menjadi tenaga pelaut yang handal.
7. Memperoleh umpan balik dari industri / perusahaan pelayaran untuk pemantapan dan pengembangan program pendidikan di SMK Pelayaran Satria Bahari Bandar Lampung.

1.3 Ruang Lingkup Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Ruang lingkup dalam Praktek Kerja Lapangan (PKL) yakni Taruna / Taruni SMK Pelayaran Satria Bahari Bandar Lampung melaksanakan PKL tahun pelajaran 2018/2019 di KMP Mutiara Sentosa III pada bagian anjungan kapal.

BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1 Sejarah Singkat Perusahaan
PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) adalah perusahaan yang bergerak di bidang transportasi atau penyebrangan yang berbendera kebangsaan Indonesia yang berada di kantor pusat bernama Gandaria 8, lantai 2 yang berada di jalan Sultan Iskandar Muda Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12240 Indonesia.

PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) mempunyai beberapa kapal yang dioperasikan :
1. KMP Mutiara Persada I
2. KMP Mutiara Persada III
3. KMP Mutiara Sentosa I
4. KMP Bahuga Jaya
5. KMP Bahuga Pratama
6. KMP Mutiara Sentosa III
7. KMP Mutiara Timur
8. KMP Mutiara Barat

KMP Mutiara Barat diproduksi oleh Saeki Heavy Industries CO.LTD.OITA. Japan yang memulai pembuatan pada bulan Agustus tahun 1991 dan selesai pada bulan Februari 1992. Pada awalnya KMP Mutiara Sentosa III bernama Asia Innovator milik perusahaan berbendera kebangsaan Jepang, yaitu perusahaan Carim Engineering Corporation yang beralamat 3358-2, Satomi, Satoshocho Asakuchi-Gun, 719-0301 Japan, lalu dibeli oleh PT Atosim Lampung Pelayaran dan diresmikan pengoperasiannya oleh Menteri Perhubungan Ignasius Jonan yang didampingi oleh Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo pada tanggal 6 Mei 2015 di Pelabuhan Panjang Provinsi Lampung, Indonesia.

Jenis KMP Mutiara Sentosa adalah RO-RO (ROLL ON – ROLL OFF) / CARGO CARIER. Mempunyai panjang kapal (LOA) 166 meter dan (LBP) 155 meter, bobot mati kapal ini (DWT) 4,088 ton. Lebar kapal (BREADTH MOLDED) 25,0 meter, tinggi kapal (DEPTH) 8,00 meter. Kapal ini mempunyai satu buah mesin induk type DIESEL UNITED-9PC40L (16200PS) horse power 11,916 KW dan mempunyai tiga buah mesin bantu merk DAIHATSU 60LB26.

KMP. Mutiara Sentosa III trayek tol laut ( Panjang- Semarang) dengan kapasitas penumpang lebih 434 penumpang dan kapasitas kendaraan 102 kendaraan yaitu 75 kendaraan pribadi dan 27 truk.

2.2 Identitas Perusahaan dan Kapal
1. Nama Perusahaan : PT. ATOSIM LAMPUNG PELAYARAN
2. Nama Kapal : KM. MUTIARA Sentosa III
3. Alamat Perusahaan : Jalan Iskandar Muda Gedung Gandaria
Kebayoran Lama Jakarta Selatan
4. Nama Pemimpin Perusahaan : Simon dan Ryand Bernad
5. Nama Nahkoda : Wundy Susanto
6. Nama Anak Buah Kapal

A. KKM : Warseno
B. Mualim I : Purwanto
C. Mualim II : Bagas Raditya
D. Mualim III : Dendi tri nuriatna
E. Mualim IV : Miftahul Huda
F. Masinis I : Budiyono
G. Masinis II : Djunaidi
H. Masinis III : Muchamad Chamin
I. Masinis IV : Khoirul Anwar
J. Mandor Deck : Doni Sefianto
K. Mandor Mesin. : Seger Kuat Santoso
L. Elektrikan : –
M. Juru Mudi : M. Iqbal Subangkit : Thomas Aqwind Rejeki
N. Juru Minyak : Nur solikin
O. Juru Masak : Rudi Purnomo : Wahyu Supriyanto

2.3 Struktur Organisasi ALP

2.4 Identitas Kapal / Ships Particul

2.4.1 Data Kapal
Berikut data kapal yang diperoleh saat PKL sebagai berikut :
No. Data Kapal Keterangan
1 Name of ship KMP Mutiara Sentosa III
2 Call Sign Y B G F 2
3 Nationality Indonesia
4 Port Of Registry Panjang
5 Official No 1591410
6 Imo No 9021394
7 Owners PT Atosim Lampung Pelayaran
8 Owners Address Jl. Hayam Wuruk No. 210, Tanjung Karang Timur, Bandar Lampung, Indonesia
9 Operator PT Atosim Lampung Pelayaran
10 Kind of Vessel Motor Vessel
11 Type of Vessel RO-RO (Roll On; Roll Off) / Cargo Carrier GT.3508 No. 1249/KA
12 Classification Japan Register / Kr / 9160992
13 Builder Sakei Heavy Industries CO,LTD.OITA, Japan
14 Year Built 1990 Aug (Start); 1991 Feb 8 (Completed)
15 Material of Hull Stell
16 Length (LOA) 160.00 M
17 Length (LLP) 150.00 M
18 Breadth (MOLDED) 25.0 M
19 Depth (MOLDED) 8.00 M
20 Height To Top Mast 32,405 M
21 Load Draft 6,066 M
22 International GT 15,380 (GROSS) / 4,614 (NET)
23 New Gross Tonnage 8,746 (Japan Gross Tonnage)
24 Dead Weight 4,088 T
25 Light Ship 6,250 T
26 TPC AT SummerDraft M/T
27 Summer Draft 6,417/DISPI.10.384/DEADWEIGHT.4.134,000
28 Fresh Draft 6,524/DISPI.10.384/DEADWEIGHT.4.134,000
29 Main Engine Type Diesel United-9PC40L (16200PS)
30 Main Engine Horse Power 11,916 KW
31 Bow Thruster BOW (1,250 HP) 14T and STERN (1,047 HP) 12T-1 Seat Each
32 Speed 21,0 KNOTS (85% CSO 20% SM)
33 Capacity of Crew 45 persons
34 Capacity of Cargo CHASSIS (40f) 42 Nos / Container (20f) 42 Nos, (12f) 167 Nos Motorcar 180 Nos
35 MMSI No.ID 354 566 000
36 Inmarsat-C No 435 456 611
37 Radio Equipment GMDSS A1+A2

2.4.2 Ukuran Utama Kapal
Berikut data ukuran utama kapal yang diperoleh saat PKL sebagai berikut :
No. Ukuran Utama Kapal Keterangan
1 Panjang Seluruh (LOA) 160.00 M
2 Breadth Moulded 25.0 M
3 Dept 8.00 M
4 GRT 14.896 T

2.4.3 Kapasitas Tanki
Tanki Bahan Bakar : 541.01
Tanki Air Tawar : 407.91
Tanki Ballast :

2.4.4 Mesin Utama
Merk : YANMAR
Type : 6N21A-SY
Hp : 1200 PS/850 RPM
Rpm : 850 Rpm
No. Seri : FTR 0920 (PB) FTR 021 (SB)

2.4.5 Mesin Bantu
Merk : CARTERPILLAR
Type : C9D1
Hp : 1200 ps/850 Rpm
Rpm : 1500 Rpm
No. Seri : C9J00350 (SB) / C9J00351 (PJ)

2.4.6 Generator
Merk : LEROY SOMER
Type :
Hp : Min 150 KW, 50 Hz
Rpm : 1500 Rpm
No. Seri : 204811/2 (SB) 204811/1 (PS)

2.4.7 Kapasitas Muatan
Kapasitas Penumpang : 434
Kelas Ekonomi : terdapat 40 kabin dengan total
penumpang 338
Kelas Bisnis : terdapat 25 kabin dengan total
penumpang 60
Kelas VIP : terdapat 17 kabin dengan total
penumpang 34
Kapasitas Kendaraan (m2) : 644
Kapasitas Muatan Kendaraan : 102
Kendaraan Pribadi : 75
Kendaraan Truk : 27

BAB III
TINJAUAN KHUSUS

3.1 Navigasi
Navigasi atau pandu arah adalah penentuan kedudukan (position) dan arah perjalanan baik di medan sebenarnya atau di peta. Dan oleh sebab itulah pengetahuan tentang pedoman arah (compass) dan peta serta teknik penggunaannya haruslah dimiliki dan di pahami.

Sebelumnya pedoman arah ditemukan, pandu arah di lakukan dengan melihat kedudukan benda-benda langit seperti matahari dan bintang-bintang di langit yang tentunya bermasalah kalau langit sedang mendung.
Dengan alat-alat navigasi yang ada di kapal dapat digunakan sebagai alat bantu untuk melihat :

1. Sunset : saat matahari terbenam
2. Sunrine : saat matahari terbit
3. Waktu Civil : waktu munculnya bintang pertama
4. Merpass : waktu posisi matahari tepat di tengah-tengah
Bendera dan alat-alat navigasi sebagai berikut :
1. Nama panggilan kapal KMP Mutiara Sentosa III
2. Macam-macam bendera yang digunakan ada 40 terdiri dari 10 bendera angka, 26 bendera huruf, 3 ular-ular pengganti, 1 ular-ular balas/jawab
3. Alat komunikasi yang digunakan di kapal ke darat dan sebaliknya adalah radio
4. Chanel-chanel penting: Chanel 16,12,17

3.1.1 Alat-alat Navigasi Kapal
Dalam pelayaran alat-alat navigasi sangat penting untuk keselamatan kapal dalam pelayaran maupun dalam menjalankan kapal baik itu jarak dekat maupun jarak yang cukup jauh sesuai dengan peraturan Internasional SOLAS 1972 dan COLREG (Colusion Regulation 1972). Seluruh kapal harus dilengkapi dengan peralatan navigasi sebagai berikut :

1. Lampu navigasi
2. Kompas magnet
3. Perlengkapan navigasi lainnya
4. Perlengkapan radio / GMDSS
5. Echo sounder
6. GPS, fax dan navtex
7. Radar kapal dan inmarsat
8. Engine telegraph, telepon internal dan sistem pengeras suara

3.1.2 Alat-alat Keselamatan Kapal
Dalam pelayaran keselamatan sangat penting sekali untuk dilengkapi alat-alat keselamatan jika pada kondisi waktu emergency (darurat) maupun pada saat dibutuhkan pada hal yang penting untuk keselamatan jiwa dilaut dan juga untuk mengurangi tingkat kerugian di atas kapal. Alat-alat keselamatan dikapal yaitu :

1. Life Jacket
2. Life Bouy
3. Life Raft
4. Life Boat
5. Immersion Suit
6. Breathing Apparatus
7. Fire Extenguisher
8. Smoke Signal
9. Paracute Signal
10. Red Hand Flare

Untuk menjaga kecakapan setiap crew di atas kapal dalam penggunaan alat-alat keselamatan maka diadakan Drill diatas kapal untuk memberikan pelatihan dalam penanganan menguasai suatu kondisi darurat yang akan dihadapi.

Pelatihan Drill di atas kapal biasanya dilakukan secara rutin dalam jangka waktu yang ditentukan, dikhususkan lagi bagi kapal dengan melaksanakan Drill secara berkala minimal setiap sebulan sekali. Jenis-jenis Drill di atas kapal antara lain :

1. Drill kebakaran
2. Drill penurun sekoci
3. Drill orang jatuh kelaut
4. Drill pencegah pencemaran
5. Drill kemudi darurat
Setiap crew di atas kapal wajib mengetahui tugas masing-masing jika pada saat emergency yang telah ditulis dalam sijil muster jist.

3.2 Sarana Komunikasi (Isyarat)
Sarana komunikasi / isyarat adalah alat komunikasi di atas kapal yang digunakan untuk membantu kapal sewaktu melakukan pelayaran di perairan bebas atau pelayaran sempit.

Nama panggilan kapal diketahui : kibarkan nama panggilan / call sign dari kapal yang akan di panggil bersama-sama dengan nama panggilan / call sign kapal itu sendiri.

Jika mana panggilan kapal tidak diketahui, kibarkan nama panggilan kapal kita sendiri dan isyarat :
– VF = harap kibarkan isyarat identitas anda
– CS = apa nama atau isyarat identitas kapal anda
– YQ = saya ingin berkomunikasi menggunakan bendera kode internasional
dengan kapal yang dibaringannya

Membalas/menjawab : ular-ular balas dikibarkan setengah tiang kemudian ular-ular balas dinaikkan penuh setelah memahami maksud pancangan, kemudian ular-ular balas setengah tiang lagi setelah pancangan stasiun pengirim menurunkan.

Semboyan tidak dimengerti, kibarkan isyarat :
1. ZQ = isyarat anda tidak di kodekan dengan benar harap diperiksa dan
ulangilah
2. ZL = isyarat anda telah diterima tetapi saya tidak memahami maksudnya
3. ZK = saya tidak dapat mengenali isyarat anda harap diulangi

Stasiun pengirim mengibarkan ular-ular balas penuh (dipuncak tiang) setelah isyarat selesai stasiun penerima menirukannya kemudian pengirim isyarat menurunkan ular-ular balas dan stasiun penerima menirukannya.
Cara mengakhiri berita dengan :

1. Semboyan bendera= stasiun pengirim mengibarkan ular-ular balaspenuh (dipuncak tiang) setelah isyarat selesai stasiun penerima menirukannya kemudian pengirim isyarat menurunkan ular-ular balas dan stasiun penerima menirukannya

2. Cahaya = stasiun pengirim mengirim kode morse AR
stasiun penerima membakar dengan kode morse R

3. Semaphore = stasiun pengirim mengirim kode AR & dibalas
dengan C

4. Telephoni = stasiun pengirim mengucapkan AR (alfa romeo)
dibalas R

7 macam isyarat bahaya :
1. Sebuah tembakan meriam dengan antara lebih kurang 1 menit
2. Roket-roket bahaya yang memancarkan bintang-bintang merah yang ditembakkan 1 demi 1 dengan selang waktu yang pendek
3. Isyarat yang dibuat oleh pesawat radio telegrafi terdiri atas kelompok
4. Isyarat yang di pancarkan dengan menggunakan pesawat radio telepon yang terdiri atas kata yang diucapkan May Day
5. Kode isyarat bahaya internasional yang ditunjukkan dengan huruf Nc.
6. Isyarat alarm radio telegrafi
7. Isyarat alarm radio telephoni
5 cara berisyarat (tabel pelengkap) antara lain :
1. Semaphore
2. Isyarat morse dengan bendera tangan atau lengan-lengan
3. Pengeras suara
4. Cahaya
5. Bunyi
Kegunaan ular-ular balas adalah :
1. Sebagai isyarat sambut
2. Sebagai isyarat tanda koma
3. Sebagai isyarat akhir
4. Sebagai isyarat eja
5. Apabila dikibarkan oleh sebuah kapal perang berarti mereka hendak berkomunikasi dengan sebuah kapal niaga

3.3 Menjangka Peta
Menjangka peta adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan alur pelayaran, membaring suatu pulau, mengetahui posisi kapal dan mengetahui arus dan arah haluan kapal.

1. Apakah dalam-dalamnya air berdekatan
2. Apakah garis-garis pantai dipetakan secara seksama
3. Apakah peta dibuat secara modern
4. Kapan peta tersebut di buat
5. Kapan peta tersebut terakhir di koreksi
6. Apakah badan hukum pembuat peta tersebut bisa di percaya
7. Mencari jalan yang aman untuk di tempuh
8. Memilih jalan yang terdekat, antara satu tempat ke tempat yang lain secara praktis, dan ekonomis
9. Mempelajari buku-buku atau publikasi lainnya yang memiliki keterkaitan dengan pelayaran
10. Menggunakan alat-alat bantu navigasi yang bertujuan untuk menentukan
posisi kapal serta menghindari bahaya-bahaya navigasi yang mungkin akan di temui pada saat berlayar
Buku terbitan navigasi yang berada dianjungan adalah :
1. Almanac nautika yang digunakan untuk menghitung azimuth benda angkasa
2. Buku panduan bahari terdiri atas 35 jilid
3. Daftar suara indonesia, dimana kita dapat mengetahui segala sesuatu tentang suara yang terdapat di kepulauan Indonesia
4. Daftar ilmu pelayaran
5. Daftar pasang surut untuk mengetahui ramalan harian pasang surut untuk 73 kota, pelabuhan, sungai, teluk dan daerah pelayaran yang berada di perairan Indonesia
6. Katalog peta laut dan buku nautika adalah buku khusus mengenai peta laut darimana di dalamnya terdapat indek-indek peta dari AS sampai W
7. Daftar arus pasang surut di perairan Indonesia
8. Daftar pelampung-pelampung serta rambu-rambu yang tidak berpenerang
9. Daftar isyarat radio yang terdiri dari 6 jilid diantaranya hal komunikasi
10. Daftar jarak untuk mengetahui jarak

3.3.1 Penentu Posisi Kapal
Seorang navigator harus dapat mengambil posisi kapal. Untuk penentuan posisi kapal, kita harus mengambil baringan benda darat, tanjung, gunung, pelampung, bui-bui yang ada dilaut atau dengan membaring benda-benda angkasa. Guna penentuan posisi kapal ini adalah untuk menghindarkan kapal dari bahaya yang ada di laut. Perlu diingat gunakanlah baringan yang sudut potongnya kira-kira 90 derajat, dan hindarilah sudut potong yang kurang dari 30 derajat.

Baringan yang dapat digunakan untuk menentukan posisi kapal cara pembaringan baringan adalah :

1. Baringan silang yaitu : baringan yang diambil dari perpotongan kedua garis baring adalah posisi kapal
2. Kombinasi baringan dengan jarak
3. Baringan yang digeser
4. Baringan dengan 4 surat
5. Baringan istimewa
6. Baringan surat berganda
7. Baringan menggunakan peruman

3.3.2 Peta Laut
Peta laut adalah peta yang digunakan untuk membantu kapal-kapal dalam melakukan suatu pelayaran. Macam-macam peta laut menurut kegunaan skalanya antara lain :

1. Peta Ikhtisar
Skala 1 : 600.000 atau lebih besar. Skala kecil meliputi daerah yang luas, yang berguna untuk memberi keterangan tentang variasi.

2. Peta Samudera
Skala 1 : 600.000 atau lebih kecil. Dipakai untuk penyeberangan samudera, dan detail tidak perlu karena perairannya tidak sesulit perairan antar pulau, meliputi daerah yang luas.

3. Peta Haluan / Peta Perantau
Skala 1 : 100.000 – 1 : 600.000. Dipakai untuk penyeberangan atau pelayaran antar pulau dan detail, peta harus ditunjukan walau tidak seteliti peta pantai.

4. Peta Pantai
Skala 1 : 50.000 atau lebih besar. Dipakai pada waktu mendekati teluk atau pelabuhan, detail peta harus ditunjukkan demi keselamatan pelayaran.

5. Peta Penjelas
Skala 1 : 50.000 atau lebih kecil. Dipakai untuk memperjelas navigasi di daerah-daerah perairan yang sempit, daerah yang perairannya dangkal dan berbahaya sehingga detail peta harus dicantumkan.

6. Peta Pelabuhan
Skala 1 : 50.000. Dipakai untuk mendekati dan meninggalkan pelabuhan dermaga, dan untuk merencanakan tempat berlabuh sehingga detail peta mutlak dicantumkan.

3.3.3 Merencanakan Jalannya Pelayaran
Yang merencanakan jalannya pelayaran dalam peta adalah mualim II, dan yang harus direncanakan adalah :
1. Sebelum berlayar cari peta yang berskala besar dan lihat nomornya
2. Buat garis haluan yang akan dilayari dan harus sedemikian rupa bebas dari bahaya navigasi
3. Tentukan haluan dari mawar pedoman
4. Hitung jarak, bahan bakar, jam berapa tiba, (ETA), dan berapa kecepatan rata-rata kapal

3.4 Memuat
Suatu kapal dengan tujuan untuk menjaga stabilitas kapal atau mempermudah untuk bongkar muat sehingga memberi keuntungan pada perusahaan kapal atau kapal itu sendiri.

1. Jenis peralatan bongkar muat yang ada pada kapal adalah jenis Ramp Door karena memuat kendaraan untuk kapal penyeberangan dan Single Boom untuk menurunkan Skot Boat.

2. Tugas perwira jaga waktu ada bongkar muat
a. Mengawasi jalannya bongkar muat
b. Mengetahui muatan dengan stowage plan
c. Menjaga stabilitas kapal

3. Cara menghitung muatan yang akan dimuat, yaitu cara Bull Scale (BS) setiap muatan yang akan masuk ke Cardek akan melewati alat tersebut hingga banyaknya muatan dapat diketahui

4. Macam-macam muatan yang ada di kapal adalah kendaraan dan penumpang. Cara pemuatannya adalah jarak antar mobil (kurang lebih) 60 cm, sampung kanan kiri 30 cm.

5. Cara mempersiapkan ruang muat sebelum menerima muatan baru
a. Membersihkan ruang muat
b. Menulis tipe muatan yang akan dimuat
6. Yang harus diperhatikan bila membersihkan ruang muat yaitu kecepatan dalam pembersihan dan kebersihan itu sendiri

3.5 Stabilitas
Stabilitas adalah ilmu yang digunakan untuk mengetahui baik buruknya stabilitas sebuah kapal, sehingga dapat diketahui apakah kapal itu layak untuk berlayar. Stabilitas adalah kemampuan sebuah kapal untuk menegak kembali setelah kapal tersebut menyenget yang disebabkan pengaruh-pengaruh dari luar setelah pengaruh itu hilang. Di dalam kapal penumpang dalam perhitungan stabilitas telah ditentukan, misalnya jumlah penumpang dan jumlah kendaraan. Apabila kapal kita oleng terlalu lamban berarti membuktikan kalau kapal kita stabilitasnya terlalu kecil atau bahkan negatif, apabila mengoleng dengan menyentak-nyentak berarti kemampuan stabilitas tersebut terlalu besar, sedangkan apabila mengoleng dengan enak maka stabilitas kapal sedang-sedang saja.

Kapal kaku berarti stabilitasnya positif tetapi GM-nya terlalu besar dengan demikian maka momen penegaknya terlalu besar. Biasanya penyebab kaku ini adalah konsentrasi muatan berat terlalu banyak pada bagian bawah.

1. Cara menghitung stabilitas kapal agar hasilnya baik dan memuaskan
a. Titik “G” berada di bawah titik “M”
b. “GM” positif

Apabila kapal sedang memuat kita harus selalu menghitung stabilitas kapal agar selalu positif dan GM-nya juga positif sehingga dapat berlayar dengan aman. GM yang dikatakan baik pada kapal penumpang adalah 2% dari lebarnya kapal, agar kapal dapat berlayar dengan aman

2. Cara memperbaiki kapal kaku / stiff
a. Tanki-tanki dasar berganda dikosongkan
b. Pindahkan muatan dari bawah ke atas

3. Cara memperbaiki / langsar biasanya disebabkan banyaknya konsentrasi muatan dibagian atas kapal

4. Cara memperbaiki kapal miring
a. Pindahkan muatan dari atas ke bawah
b. Tambahkan muatan di bawah secara sistematis
c. Bongkar muatan atas secara simetri / sistematis
d. Hilangkan pengaruh permukaan bebas
e. Tanki tengah diisi bila ada
f. Tanki pada sisi rendah harus permukaan bebas
g. Tanki tengah diisi bila ada
h. Tanki pada sisi rendah harus diisi (mula-mula semakin miring)

5. Kita harus menghitung stabilitas kapal bila sedang muat agar stabilitas kapal baik

6. Tinggi “GM” dikatakan baik apabila nilainya 5% lebar kapal

3.6 Bangunan Kapal
Salah satu tujuan dari ilmu bangunan adalah supaya kita dapat mengenal ukuran-ukuran kapal, baik secara membujur, melintang atau tegak.

1. Ukuran membujur terdiri dari :
a. LOA (Long Over All) adalah jarak membujur sebuah kapal dari titik terdepan kapal sampai titik terbelakang buritan kapal

b. LBP (Long Between Perpendiculars) adalah panjang yang diukur dari garis tegak sampai garis tegak belakang. Garis tegak depan adalah garis tegak yang memotong linggi haluan kapal, sedangkan garis tegak belakang yaitu garis tegak yang berpusat pada poros kemudi

c. LWL (Long On The Load Water Line) adalah panjang kapal sebuah kapal yang diukur dari perpotongan garis air pada linggi haluan sampai ke titik potong garis air buritan diukur sejajar lunas. Panjang terdaftar adalah panjang seperti yang tertera dalam sertifikat kapal, yaitu dihitung dari ujung terdepan geladak jalan terus teratas sampai garis tegak belakang yang

2. Ukuran melintang terdiri dari :
a. Lebar besar (Extrem Breadth), yaitu jarak melintang dari titik terjauh sebelah kiri sampai titik terjauh sebelah kanan, diukur pada lebar terbesar dan sejajar lunas. Dalam hal ini kulit kapal ikut dihitung

b. Lebar dalam (Moulded Breadth), yaitu lebar kapal yang diukur dari sebelah dalam lambung kanan kapal sampai sebelah dalam lambung kiri kapal, diukur pada lebar kapal yang terbesar dan sejajar lunas. Dalam hal ini kulit tidak dihitung

c. Lebar terdaftar (Registered Breadth), yaitu panjang yang tertera dalam sertifikat kapal itu yang panjangnya sama dengan lebar dalam

3. Ukuran tegak terdiri dari :
a. Sarat kapal (draft), ialah jarak tegak yang diukur dari titik terendah badan kapal sampai garis air

b. Lambung kapal (Free Board), ialah jarak tegak dari garis air sampai geladak lambung bebas

c. Dalam (Depth), ialah jarak tegak yang diukur dari titik terendah badan kapal dititik geladak lambung bebas tersebut

d. Dalam tonnage, adalah dalam yang dihitung mulai dari alas dasar dalam sampai geladak lambung bebas
Adapun kegunaan dari sekat kedap air sebagai berikut :
a. Membagi kapal atas kompartemen-kompartemen dengan sendirinya
b. Membagi tekanan ke bidang yang lebih luas
c. Mempertinggi keselamatan kapal, terutama kapal kerusakan khususnya dibagian bawah permukaan air atau di dekatnya misalnya kandas, tubrukan, dll
d. Mempertinggi keselamatan dan kekuatan melintang kapal
e. Membatasi / melokalisir bahaya kebakaran di salah satu kompartemen atau penggenangan sesudah salah satu kompartemen mengalami kebocoran.

Kapal adalah kendaraan pengangkut penumpang dan barang dilaut maupun di sungai dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain atau dari satu daratan ke daratan lain.

Kapal RO-RO adalah kapal yang bisa memuat kendaraan yang berjalan masuk ke dalam kapal dengan penggerakannya sendiri dan bisa keluar dengan sendiri juga, sehingga disebut sebagai kapal ROLL ON- ROLL OFF. Oleh karena itu, kapal ini dilengkapi dengan pintu rampa yang di hubungkan dengan Movable Bridge atau dermaga apung ke dermaga.

Kapal RO-RO selain digunakan untuk truck juga digunakan untuk mengangkut mobil penumpang, sepeda motor, serta penumpang jalan kaki. Angkutan ini merupakan pilihan populer antara Jawa dengan Sumatera, seperti Merak-Bakauheni maupun Panjang-Tanjung Priok.

3.6.1 Bagian – Bagian Kapal
Pengkhususan terhadap jenis muatan memberi dampak peningkatan efisiensi dan produktifitas karakteristik sebuah kapal akan berpengaruh terhadap konstruksi kapal tersebut.

Bagian-bagian kapal pada umumnya mempunyai kesamaan seperti bagian-bagian utama kapal terdiri dari :
1. Cerobong
2. Buritan
3. Propeller
4. Kulit kapal
5. Mesin
6. Lampu sorot
7. Haluan
8. Geladak utama
9. Bangunan atas (Super Structure) dimana ditempatkan anjungan kapal dari awak kapal
Pada kapal RO-RO mesin dilengkapi dengan pintu rampa yang terletak pada haluan dan buritan kapal dan juga mempunyai tempat untuk penempatan muatan kendaraan atau biasa disebut Cardeck. Dan pada kapal yang semi passanger atau yang ada penumpangnya biasanya disediakan fasilitas untuk kebutuhan penumpang yaitu :
1. Kamar penumpang
2. Toilet
3. Restaurant
4. Musholla
5. Alat-alat permainan
6. Panggung musik hiburan

3.7 Perlengkapan Kapal
Perlengkapan kapal sangat penting dalam pengoperasian, terutama dalam berlayar baik kapal barang, minyak dan penumpang. Di kapal penumpang perlengkapan kapal harus lengkap karena menyangkut keselamatan penumpang. Tali temali merupakan salah satu perlengkapan kapal, contohnya tross dan spring. Tross dan spring yang digunakan, yaitu : tross dan spring yang terbuat dari nilon, karena bahan ini sangat mahal daripada bahan yang lain. Adapun guna dari tross dan spring ialah agar kapal tidak bergerak atau lari pada saat kapal sandar.

3.8 Hukum Maritim
Nahkoda adalah pimpinan tertinggi diatas kapal. Nahkoda berhak sebagai :
a. Pemimpin kapal
b. Pemegang kewibawaan umum
c. Jaksa atau pegawai kepolisian
d. Pegawai pencatat sipil
e. Notaris
Apabila ada orang yang meninggal dunia dikapal, nahkoda harus membuat akte kematian juga dalam waktu 24 jam dengan dihadiri 2 orang saksi dan sebab-sebab dari kematian tidak boleh disebutkan dalam akte itu. Tetapi, nahkoda wajib mencatat ini dalam buku hariannya. Jika ada seorang yang jatuh kelaut maka nahkoda tidak harus selalu membuat akte kematian berhubung dengan kemungkinan bahwa si korban akan mencapai kapal lain atau daratan. Dalam hal ini sebaiknya nahkoda harus membuat akte tersebut serta menyebutkan dengan kemungkinan bahwa si korban akan mencapai kapal lain atau daratan. Dalam hal ini sebaiknya nahkoda harus membuat akte tersebut serta menyebutkan dengan jelas di dalam buku harian kapal mengenai tempat dimana kecelakaan itu terjadi, keadaan cuaca, berapa lama telah didarat. Nahkoda tidak boleh membuat akte kematian.

Kewajiban ABK yaitu :

a. Bekerja sekuat tenaga dan wajib mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan nakhoda. Pekerjaan ABK ini dijelaskan di dalam perjanjian kerja laut dan sijil awak kapal
b. Taat kepada atasan terutama menjalankan perintah-perintah dari nahkoda (KUHD 384)
c. Tidak boleh membawa atau memiliki minuman keras, tidak membawa barang yang terlarang, sengaja dan sebagainya dikapal tanpa izin nahkoda
d. Keluar dari kapal selalu dengan izin nahkoda dan pulang kembali tidak terlambat (KUHD 385)

3.9 Meteorologi
Meteorologi adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala atau peristiwa yang terjadi pada lapisan udara dalam waktu singkat. Macam-macam meteorologi yaitu meteorologi sipnotik, meteorologi penerbangan dan meteorologi maritim. Meteorologi maritim yaitu pengamatan yang dilakukan ditengahlaut maupun di tepi laut pantai. Unsur-unsur yang diamati adalah sinar matahari, arah dan kecepatan angin, penglihatan mendatar, keadaan cuaca, tekanan udara, temperature, perawatan, penguapan, tinggi dan panjang gelombang, salinity dan suhu air laut.
Apabila dalam mengamati perawatan pengamatan, kita harus mengetahui jenis-jenis awan. Jenis-jenis awan menurut tingginya dibagi menjadi :

1. Awan Rendah
Tinggi awan rendah kira-kira 2.000 meter, yang terdiri dari Fracto Cumulus (Fc), Fracto Stratus (Ft), Stratus Cumulus (Sc), Cumulus Humulus (Ch), Cumulus Congestos, Cumulus Nimbus (Cn), dan Nimbus Stratus (Ns).

2. Awan Menengah
Tinggi awan menengah kira-kira 2.000 – 6.000 meter. Awan ini terdiri dari Alto Cumulus (Ac) dan Alto Stratus (As).

3. Awan Tinggi
Awan ini tingginya kira-kira 6.000 meter, yang terdiri dari Cirrus (Ci), Cirrus Stratus (Cs), dan Cirrus Cumulus (Cu).
Apabila kita melakukan pengamatan, kita dapat melakukan pengamatan dengan cara visual dan menggunakan alat pengamatan. Alat pengamatan

yang digunakan untuk melakukan pengamatan yaitu :
1. Barometer
Alat ini digunakan di kapal untuk melakukan pengamatan yang berguna untuk mengetahui tekanan udara. Barometer yang digunakan di kapal adalah barometer aneroid. Alat ini diletakkan dikamar peta.

2. Termometer
Alat ini digunakan di kapal untuk mengetahui suhu udara pada kapal. Alat ini diletakkan pada kamar peta.

3. Anemometer
Adalah alat yang digunakan dikapal untuk mengetahui arah dan kecepatan angin, karena arah dan kecepatan angin mempengaruhi haluan kapal. Anemometer terbagi atas wind speed dan wind direction.
a. Pilot ballon
b. Rewind
c. Wind sock
d. Rasson
e. Asap
Alat anemometer dan anemograf digunakan untuk mengukur arah dan kecepatan angin lapisan permukaan (<10 meter), sedangkan alat pilot ballon dan wind sock adalah alat untuk mengukur arah dan kecepatan angin tingkat atas (>10 meter). Selain daripada itu, alat ditingkat atas dengan bantuan receiver dan alat untuk rasson dan asap digunakan sebagai alat bantu untuk pendaratan pesawat para pendaki.

3.9.1 Oceanografi
1. Cara untuk mengetahui besarnya arus pada suatu tempat adalah dengan melihat daftar arus pasang surut.

2. Untuk mengetahui kapan dan berapa besarnya pasangan pada suatu tempat yaitu dengan melihat daftar pasang surut.

3. Oleh gerak mendekati kapal pandu yaitu : maju pelan sekali, stop dengan syarat kemudi harus makan, usahakan motor pandu dibawah angin atau ombak.

4. Prosedur melepaskan pandu yaitu : perwira harus berkomunikasi antar kapal dan alat navigasi seperti radar harus dihidupkan.

5. Tugas nahkoda bila kapalnya dipandu adalah mengawasi, bertanggung jawab di atas kapal, dan nahkoda biasa mengambil pandu bila keadaan membahayakan.

6. Persiapan kamar mesin bila kapal akan sandar atau berangkat, yaitu :
a. Persiapan mesin ind
b. Persiapan motor pandu
c. Persiapan mesin bantu lainnya

3.10 Peraturan Pencegahan Tubrukan di Laut (P2TL)
Peraturan Pencegahan Tubrukan di Laut (P2TL) adalah ilmu yang mempelajari tentang bahaya tubrukan di laut, isyarat lampu navigasi pada malam hari dan cara menghindari suatu kapal apabila sedang berhadapan.

1. Hal-hal yang harus diperhatikan bila belajar di alur yang sempit adalah sebagai berikut :
a. Tanda-tanda bahaya seperti suar, bui, daftar arus, dan daftar pasang surut
b. Keadaan cuaca
c. Komunikasi antar kapal
d. Radar jika keadaan cuaca buruk

2. Persyaratan seorang pengamat yang baik adalah seorang yang melaksanakan kewajiban tugas dengan kecakapan seorang pelaut berdasarkan pengalamannya diperoleh

3. P2TL berlaku bagi pemilik kapal, ABK, nahkoda, pesawat terbang laut

4. Penyimpanan P2TL apabila terjadi hal yang dapat menimbulkan bahaya tubrukan atau bahaya mendadak

5. Situasi yang dapat menimbulkan bahaya tubrukan yaitu tidak mengambil tindakan dengan tegas dan secara dini untuk menghindarinya

6. Alasan penerangan kapal ikan dibedakan yaitu :
a. Merah putih dalam kapal ikan yang sedang tidak memasang jala
b. Hijau putih adalah kapal ikan yang sedang menarik jaring atau pukat

7. Yang dimaksud dengan pelaut yang baik adalah ketelitian, ketegasan, dan kualitas kerjanya dianggap baik

8. Arti ragu-ragu dalam aturan 13 dan 14 adalah dalam situasi berhadapan dan penyusulan dianggap ada

9. Alat-alat dan sosok benda yang ada di kapal penyeberangan antara lain ada 3 bola-bola hitam yang mempunyai fungsi sebagai berikut :
a. 1 buah untuk berlabuh
b. 2 buah untuk kapal rusak mesin
c. 1 buah belah ketupat gunanya untuk menggandeng atau untuk kerja

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Setelah kami melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) selama 4 hari, tepatnya dari tanggal 12 Maret sampai dengan 16 Maret 2017 di KMP Mutiara Sentosa III (Tol Laut) dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Kegiatan praktek kerja lapangan (PKL) mengunggah semangat saya untuk giat dalam belajar
2. Mampu mempraktekkan teori yang didapat dari sekolah
3. Mengetahui alat-alat bantu navigasi yang berada di kapal serta kegunaannya dari masing-masing alat tersebut
4. Menjadi lebih disiplin

4.2 Saran
Praktek Kerja Lapangan Taruna / Taruni yang dilaksanakan dengan rasa penuh tanggung jawab dan jadikanlah pengalaman yang terbaik bagi kita semua. Adapun saran yang dapat saya berikan adalah sebagai berikut :

1. Bagi adik-adik tingkat sebelum PKL, agar menguasai materi terlebih dahulu supaya pada waktu PKL lebih mudah mempraktekkan alat-alat navigasi yang berada di atas kapal
2. Agar disiplin sekolah lebih ditingkatkan lagi, karena disiplin sangat perlu dan merupakan cermin bagi diri sendiri
3. Bagi dewan guru yang terlibat dalam KL, supaya menjalin kerjasama yang lebih baik dengan tempat PKL
4. Penulis berharap pihak perusahaan dan perwira kapal dapat menerima dan membimbing dengan baik

Kategori
Artikel selanjutnya

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *