Contoh Makalah Kritik Seni

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur ke-Hadirat Alloh SWT yang telah memberikan hidayah dan inayahnya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar tanpa halangan suatu apapun. Tanpa hidayah dan inayahnya mungkin kami tidak akan sanggup dalam menyelesaikan makalah ini yang berjudul “KRITIK SENI”

Kami membuat makalah untuk memenuhi Kami juga menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari rekan-rekan semua agar makalah ini bisa mendekati sempurna dan bermanfaat bagi para pembaca.

DAFTAR ISI

Kata Pengantar…..ii
Daftar Isi….. iii
BAB I Pendahuluan….. 1
2.1 Latar Belakang…..1
2.2 Perumusan Masalah…..2
2.3 Tujuan….. 2
2.4 Manfaat…..3
BAB II Pembahasan….. 4
2.1 Pengertian Kritik Seni…..4
2.2 Jenis-jenis Kritik Seni…..6
2.3 Fungsi Kritik Seni…..7
2.4 Tahapan Kritik Seni….. 9
BAB III Penutup…..11
3.1 Kesimpulan….. 11
3.2 Saran….. 12
Daftar Pustaka….. 13

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan seni aktivitas manusia terbagi menjadi tiga bentuk, yaitu aktivitas kreasi, aktivitas penghayatan, dan aktivitas kritik seni. Aktivitas karya seni yaitu mengacu adanya seniman yang menghadirkan karya. Artinya, dalam proses seniman bersinggungan dengan kenyataan objektif di luar dirinya atau kenyataan dalam dirinya sendiri. Persinggungan tersebut menimbulkan respon atau tanggapan. Tanggapan yang dimilikinya dipresentasikan ke luar dirinya, maka lahirlah karya seni. Aktivitas penghayatan, yaitu aktivitas seseorang dalam memahami karya seni untuk mendapatkan suatu pengalaman batin. Artinya, penghayat merasa puas setelah menghayati karya seni dan memperoleh kepuasan estetik.
Kepuasan estetik merupakan hasil interaksi antara karya seni dengan penghayat. Sedangkan aktivitas kritik seni, yakni sebagai usaha pemahaman dan penikmatan karya seni. Dalam hal ini kritik sebagai kajian rinci dan apresiatif dengan analisis yang logis dan argumentatif untuk menafsirkan karya seni. Ketiga aktivitas tersebut, dapat dijelaskan bahwa kreasi seni berkaitan dengan mencipta, menghayati, dan kritik. Mencipta, yaitu proses mewujudkan suatu karya seni sesuai dengan ide seniman. Menghayati, yakni proses menikmati suatu karya yang diciptakan seniman. Kritik, yakni proses evaluasi untuk menentukan baik-buruknya suatu ciptaan atau memberi penjelasan terhadap suatu karya berdasarkan norma-norma tertentu. Oleh karena itu, ketiga aktivitas itu, yakni antara seniman, penghayatan, dan kritik seni (penilaian) merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Proses apresiasi memang menjadi satu kebutuhan dan kritik adalah kebutuhan yang lain. Keduanya dapat berkait ketika kritik berhasil sebagai pemandu pemahaman dan apresiasi. Kritik selalu diharapkan menjadi pembuka kemungkinan adanya proses pemahaman antara kerja seniman dan daya apresiasi masyarakat penikmatnya. Tugas kritik karya seni akan lebih banyak pada prioritas masalah apresiasi, sehingga seluruh proses pendekatan dan isi paparan kritik dapat menciptakan iklim apresiasi.
Kritik Seni dalam dunia Seni Rupa sangat penting. Malalui Kritik Seni, kita bisa melihat kelebihan dan kekurangan yang tampak dalam sebuah karya seni. Terjadinya kritik disebabkan adanya ketidak sesuaian, penyimpangan ataupun lepasnya batas-batas normatif dalam pandangan obyektif pelaku kritik. Tentu pandangan masing-masing pelaku kritik didasari dari latar belakang ilmu pengetahuan dan pengalamannya secara menyeluruh. Artinya kritik pun bisa bermakna subyektif bisa pula bermakna obyektif. Namun nilai kritik akan sangat bisa diterima, tentunya, jika sudah melalui seleksi mayoritas atas pandangan yang obyektif. Situasi kondisi dalam hal ini sangat mudah kita saksikan, baik itu di wilayah publik, maupun dalam wilayah-wilayah yang lebih kecil. Misalnya lingkungan sekitar. Atau bisa juga dalam sebuah komunitas tertentu.
Prilaku kritik mengkritik sangat mudah dijumpai di mana saja dalam konteks sesuai dengan wilayah masing- masing. Mengkritik sebaiknya dibarengi dengan semangat untuk menciptakan kondisi yang lebih baik dari sebelumnya bukan sebaliknya. Jadi jikapun terjadi sebaliknya, berarti ada yang konslet dari proses kritik mengkritik itu. Dan disitulah yang musti dibenahi. Dalam kehidupan sosial secara umum, kritik mengkritik kerap terjadi. saya yakin dengan menjaga prinsip-prinsip saling menghormati, realistis dan menggunakan teknik komunikasi yang cerdas, maka kritik akan menjadi perbuatan yang menyenangkan.

1.2 Rumusan Masalah
Dari pembahasan diatas yang menjadi perumusan masalah adalah :
1. Apa pengertian dari kritik seni ?
2. Apa saja jenis-jenis dari kritik seni ?
3. Apa manfaat dari kritik seni ?
4. Apa saja tahap-tahap dalam kritik seni ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari kritik seni.
2. Untuk mengetahui jenis-jenis dari kritik seni.
3. Untuk mengetahui manfaat dari kritik seni.
4. Untuk mengetahui tahap-tahap dalam kritik seni.

1.4 Manfaat Penelitian
Dengan makalah ini, diharapkan dapat memberikan pengetahuan serta pemahaman yang baik, baik kepada penulis maupun kepada pembaca tentang “KRITIK SENI”. Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penyusunan makalah ini adalah pembaca dapat mengetahui tentang Pengertian, jenis-jenis, manfaat dan tahapan dalam kritik seni.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kritik Seni
Istilah kritik atau critism (Inggris) berasal dari bahasa Yunani yakni kritikos yang berhubungan dengan krinein yang berarti memisahkan, mengamati, membandingkan dan menimbang. Di Yunani ada kata krites yang maksudnya hakim, dengan kata kerja krinein berarti juga menghakimi. Kritikos berarti juga hakim kesusasteraan. Istilah ini ada semenjak abad ke IV sebelum kelahiran kristus. Menurut sejarahnya, seorang bernama Pilatus dari pulau Kos yang pada tahun 305 Sebelum Masehi didatangkan ke Alexandria untuk menjadi guru raja Ptolomeus II dan dianugerahi julukan penyair dan kritikos sekaligus (Hardjana, 1981).
Pada abad pertengahan di Eropa, istilah kritik hanya muncul dalam bidang kedokteran dengan pengertian yang menyatakan suatu keadaan penyakit yang kritis atau sangat membahayakan jiwa penderitanya. Selanjutnya pada masa Renaissans arti kata tersebut kembali kepada pengertian lama dan seorang yang bernama Poliziano pada tahun 1492 mempergunakan istilah-istilah tersebut untuk membedakannya dengan filsuf. Pada waktu itu, istilah critikus dan gramaticus dipergunakan untuk menunjuk orang-orang yang menekuni pustaka sastra lama. Sementara itu seorang pujangga bernama Erasmus mempergunakan istilah art critic untuk Al-Kitab sebagai alat atau sarana dalam pelayanan hidup. Beberapa waktu kemudian di kalangan penganut Humanisme berlaku pengertian yang terbatas pada penyuntingan dan pembetulan teks-teks kuno. Pergeseran arti kritik sehingga mencakup pembetulan edisi, pernyataan pengarang, sensor dan penghakiman berlaku pada sekitar tahun 1600. (Wellek, 1971).
Sementara itu, di Perancis dan Amerika Serikat pada awal abad XIX berlaku kedua pengertian itu secara luas. Istilah critique menunjuk pembicaraan tentang seniman tertentu, sedangkan criticism menunjuk teorinya. Dalam bahasa Inggris, istilah Critic diperuntukkan kepada orangnya, yang bahasa Belandanya Criticus. Menurut Poerwadarminta , kritik berarti kemelut; keadaan genting. Kritik berarti kecaman, celaan, gugatan. Sedangkan menurut Seodjipto (1991), arti kata kritik adalah suatu cara atau metoda untuk membahas, menimbang, mengamati, membandingkan, memilah-milah (menyeleksi), mengulas, mengurai, menafsir, meninjau, komentar, menelaah, menilai, mengevaluasi dan mengkaji. Lebih lanjut W.H. Hudson mengatakan bahwa istilah kritik dalam arti yang tajam adalah penghakiman (judgesment). Kritikus pertama kali dipandang sebagai seorang ahli yang memiliki kepandaian khusus dan mengalami pendidikan untuk menelaah suatu karya. Memeriksa kebaikan dan cacat, lalu mengatakan pendapat itu. Selanjutnya Hudson mengatakan adanya kritikan yang mengutamakan memuji dan mencari kebaikan dan ada yang mengutamakan mencari cacat melulu. Menurut Gayley dan Scoot dalam Liaw Yock Fang (1970), kritik adalah: mencari kesalahan (faul- finding), memuji (to praise ), menilai (to judge ), membandingkan (to compare), dan menikmati (to appreciate ). Dari beberapa pandangan di atas, ternyata menunjukkan adanya perbedaan dalam mendefinisikan apa kritik itu. Namun jika dicermati lebih mendalam akan ada kesamaan, yakni: kritik adalah komentar, biasanya normatif terhadap suatu prestasi dan seluk beluk dengan tujuan apresiatif.
Oleh karea itu, kritik seni merupakan kegiatan menanggapi karya seni untuk menunjukkan kelebihan dan kekurangan suatu karya seni. Keterangan mengenai kelebihan dan kekurangan ini dipergunakan dalam berbagai aspek, terutama sebagai bahan untuk menunjukkan kualitas dari sebuah karya. Para ahli seni umumnya beranggapan bahwa kegiatan kritik dimulai dari kebutuhan untuk memahami kemudian beranjak kepada kebutuhan memperoleh kesenangan dari kegiatan memperbincangkan berbagai hal yang berkaitan dengan karya seni tersebut. Sejalan dengan perkembangan pemikiran dan kebutuhan masyarakat terhadap dunia seni, kegiatan kritik kemudian berkembang memenuhi berbagai fungsi sosial lainnya. Kritik karya seni tidak hanya meningkatkan kualitas pemahaman dan apresiasi terhadap sebuah karya seni, tetapi dipergunakan juga sebagai standar untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil berkarya seni. Tanggapan dan penilaian yang disampaikan oleh seorang kritikus ternama sangat mempengaruhi persepsi penikmat terhadap kualitas sebuah karya seni bahkan dapat mempengaruhi penilaian ekonomis (price ) dari karya seni tersebut.

2.2 Jenis-jenis Kritik Seni
Kritik karya seni memiliki perbedaan tujuan dan kualitas. Karena perbedaan tersebut, maka dijumpai beberapa jenis karya seni seperti yang disampaikan oleh Feldman (1967) yaitu kritik populer (popular criticism ), kritik jurnalis (journalistic criticism ), kritik keilmuan (scholarly criticism). dan kritik pendidikan (pedagogical criticism ). Pemahaman terhadap keempat tipe kritik seni dapat mengantar nalar kita untuk menentukan pola pikir dalam melakukan kritik seni. Setiap tipe mempunyai ciri (kriteria), media (alat : bahasa), cara (metoda), sudut pandang, sasaran, dan materi yang tidak sama. Keempat kritik tersebut memiliki fungsi yang menekankan pada masing-masing keperluannya.

a. Kritik Populer
Kritik populer merupakan jenis kritik seni yang ditujukan untuk konsumsi massa / umum. Tanggapan yang disampaikan melalui kritik jenis ini biasanya bersifat umum saja lebih kepada pengenalan atau publikasi sebuah karya. Dalam tulisan kritik populer, umumnya dipergunakan gaya bahasa dan istilah-istilah sederhana yang mudah dipahami oleh orang awam.

b. Kritik Keilmuan
Kritik keilmuan adalah jenis kritik yang bersifat akademis dengan wawasan pengetahuan, kemampuan dan kepekaan yang tinggi untuk menilai / menanggapi sebuah karya seni. Kritik jenis ini umumnya disampaikan oleh seorang kritikus yang sudah teruji kepakarannya dalam bidang seni, atau kegiatan kritik yang disampaikan mengikuti kaidah-kaidah atau metodologi kritik secara akademis. Hasil tanggapan melalui kritik keilmuan seringkali dijadikan referansi bagi para kolektor atau kurator institusi seni seperti museum, galeri dan balai lelang.

c. Kritik Jurnalis
Kritik jurnalis ialah jenis kritik seni yang hasil tanggapan atau penilaiannya disampaikan secara terbuka kepada publik melaui media massa khususnya surat kabar. Kritk ini hampir sama dengan kritik populer, tetapi ulasannya lebih dalam dan tajam. Kritik jurnalistik sangat cepat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kualitas dari sebuah karya seni, tertama karena sifat dari media massa dalam mengkomunikasikan hasil tanggapannya

d. Kritik Kependidikan
Kritik kependidikan merupakan kegiatan kritik yang bertujuan mengangkat atau meningkatkan kepekaan artistik serta estetika subjek belajar seni. Jenis kritik ini umumnya digunakan di lembaga- lembaga pendidikan seni terutama untuk meningkatkan kualitas karya seni yang dihasilkan peserta didiknya. Kritik jenis ini termasuk yang digunakan oleh guru di sekolah umum dalam penyelenggaraan mata pelajaran pendidikan seni.

2.3 Fungsi Kritik Seni
Kritik seni memiliki fungsi yang sangat strategis dalam dunia kesenirupaan dan pendidikan seni rupa. Fungsi kritik seni yang pertama dan utama ialah menjembatani persepsi dan apresiasi artistik dan estetik karya seni rupa, antara pencipta (seniman, artis), karya, dan penikmat seni. Komunikasi antara karya yang disajikan kepada penikmat (publik) seni membuahkan interaksi timbal-balik dan interpenetrasi keduanya.
Fungsi lain ialah menjadi dua mata yang saling dibutuhkan, baik oleh seniman maupun penikmat. Seniman membutuhkan mata panah tajam untuk mendeteksi kelemahan, mengupas kedalaman, serta membangun kekurangan. Seniman memerlukan umpan-balik guna merefleksi komunikasi-ekspresifnya, sehingga nilai dan apresiasi tergambar dalam realita harapan idealismenya. Publik seni (masyarakat penikmat) dalam proses apresiasinya terhadap karya seni membutuhkan tali penghubung guna memberikan bantuan pemahaman terhadap realita artistik dan estetik dalam karya seni. Proses apresiasi menjadi semakin terjalin lekat, manakala kritik memberikan media komunikasi persepsi yang memadai. Kritik dengan gaya bahasa lisan maupun tulisan yang berupaya mengupas, menganalisis serta menciptakan sudut interpretasi karya seni, diharapkan memudahkan bagi seniman dan penikmat untuk berkomunikasi melalui karya seni Menurut Sudarmaji (1970) melihat kritik memiliki dua fungsi, yakni:

1) Sebagai pemberitahuan bahwa ada penyuguhan hasil seni. Sebagai fungsi tak langsung, dan
2) Pembicaraan sesuatu gejala, memberikan pengantar, lalu menilai baik buruknya suatu prestasi, serta memberikan apresiasi. Berdasarkan titik tolak atau landasan yang digunakan, dikenal pula beberapa bentuk kritik yaitu: kritik instrumentalistik, kritik formalistik dan ekspresivistik :

• Kritik Instrumentalistik
Melalui pendekatan instrumentalistik sebuah karya seni cenderung dikritisi berdasarkan kemampuananya dalam upaya mencapai tujuan, moral, religius, politik atau psikologi. Pendekatan kritik ini tidak terlalu mempersoalkan kualitas formal dari sebuah karya seni tetapi lebih melihat aspek konteksnya baik saat ini maupun masa lalu. Lukisan berjudul ”Penangkapan Pangeran Diponegoro” karya Raden Saleh misalnya, dikritisi tidak saja berdasarkan kualitas teknis (formal) nya saja tetapi keterkaitan antara objek, isi, tema dan tujuan serta pesan moral yang ingin disampaikan pelukisnya atau interpretasi pengamatnya terhadap konteks ketika karya tersebut dihadirkan.

• Kritik Formalistik
Melalui pendekatan formalistik, kajian kritik terutama ditujukan terhadap karya seni sebagai konfigurasi aspek-aspek formalnya atau berkaitan dengan unsur-unsur pembentukannya. Pada sebuah karya lukisan, maka sasaran kritik lebih tertuju kepada kualitas penyusunan (komposisi) unsur-unsur visual seperti warna, garis, tekstur, dan sebagainya yang terdapat dalam karya tersebut. Kritik formalistik berkaitan juga dengan kualitas teknik dan bahan yang digunakan dalam berkarya seni.

• Kritik Ekspresivistik
Melalui pendekatan ekspresivistik dalam kritik seni, kritikus cenderung menilai dan menanggapi kualitas gagasan dan perasaan yang ingin dikomunikasikan oleh seniman melalui sebuah karya seni. Kegiatan kritik ini umumnya menanggapi kesesuaian atau keterkaitan antara judul, tema, isi dan visualisasi objek-objek yang ditampilkan dalam sebuah karya.

2.4 Tahap dalam Kritik Seni
Berdasarkan beberapa uraian tentang pendekatan dalam kritik seni, dapat dirumuskan tahapan-tahapan kritik secara umum sebagai berikut:

a) Deskripsi
Deskripsi ialah tahapan dalam kritik untuk menemukan, mencatat dan mendeskripsikan segala sesuatu yang dilihat apa adanya dan tidak berusaha melakukan analisis atau mengambil kesimpulan. Agar dapat mendeskripsikan dengan baik, seorang pekritik harus mengetahui istilah istilah tehnis yang umum digunakan dalam dunia seni rupa. tanpa pengetahuan tersebut, maka pekritik akan kesulitan untuk men deskripsikan fenomena karya yang dilihatnya.

b) Analisis formal
Analisis formal merupakan tahapan dalam kritik karya seni untuk menelusuri sebuah karya seni berdasarkan struktur formal atau unsur-unsur pembentuknya. Pada tahap ini seorang kritikus harus memahami unsur-unsur seni rupa dan prinsip- prinsip penataan atau penempatannya dalam sebuah karya seni.

c) Interpretasi
Interpretasi yaitu tahapan penafsiran makna sebuah karya seni meliputi tema yang digarap, simbol yang dihadirkan dan masalah-masalah yang dikedepankan. Penafsiran ini sangat terbuka sifatnya, dipengaruhi sudut pandang dan wawasan pekritiknya. Semakin luas wawasan seorang pekritik biasanya semakin kaya interpretasi karya yang dikritisinya.

d) Evaluasi atau penilaian
Apabila tahap 1 sampai 3 ini merupakan tahapan yang juga umum digunakan dalam apresiasi karya seni, maka tahap ke 4 atau tahap evaluasi merupakan tahapan yang menjadi ciri dari kritik karya seni. Evaluasi atau penilaian adalah tahapan dalam kritik untuk menentukan kualitas suatu karya seni bila dibandingkan dengan karya lain yang sejenis. Perbandingan dilakukan terhadap berbagai aspek yang terkait dengan karya tersebut baik aspek formal maupun aspek konteks. Mengevalusi atau menilai secara kritis dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Mengkaitkan sebanyak-banyaknya karya yang dinilai dengan karya yang sejenis
Menetapkan tujuan atau fungsi karya yang ditelaah
Menetapkan sejauh mana karya yang ditetapkan “menyimpang” dari yang telah ada sebelumnya.
Menelaah karya yang dimaksud dari segi kebutuhan khusus dan segi pandang tertentu yang melatarbelakanginya.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kritik seni merupakan kegiatan menanggapi karya seni untuk mempertumbuhkan kelebihan dan kekurangan suatu karya seni. Kegiatan kritik berawal dari kebutuhan untuk memahami kemudian beranjak kepada kebutuhan memperoleh kesenangan dari kegiatan berbincang-bincang tentang karya seni. Menurut Feldman (1967) terdapat 4 (empat) jenis kritik seni, yaitu kritik jurnalistik (journalistic criticism), kritik populer (popular criticism), kritik pedagogik (pedagogical criticism), dan kritik akademik (scholarly criticism). Pemahaman terhadap keempat tipe kritik seni dapat mengantar nalar kita untuk menentukan pola pikir dalam melakukan kritik seni. Berdasarkan titik tolak atau landasan yang digunakan, dikenal beberapa bentuk kritik sebagai berikut :
1. Kritik Formalistik, kajian kritik terhadap karya seni sebagai konfigurasi aspek-aspek formalnya atau berkaitan dengan unsurunsur pembentukan nya.
2. Kritik Espresivistik, menilai dan menanggapi gagasan dan perasaan yang ingin dikomunikasikan oleh seniman dalam sebuah karya seni.
3. Kritik Instrumentalistik, sebuah karya seni dilihat kemampuananya dalam upaya mencapai tujuan, moral, religius, politik atau psikologi .
Kegiatan dalam Kritik Karya Seni Rupa secara umum mengikuti tahapan sebagai berikut: Deskripsi, Analisis formal, Interpretasi, dan Evaluasi atau penilaian, Fungsi kritik seni yang pertama dan utama ialah menjembatani persepsi dan apresiasi artistik dan estetik karya seni rupa, antara pencipta (seniman, artis), karya, dan penikmat seni. Arus komunikasi antara karya yang disajikan kepada penikmat (publik) seni membuahkan interaksi timbal-balik dan interpenetrasi keduanya. Fungsi lain ialah menjadi jalan strategis bagi seniman dan penikmat untuk berkomunikasi.

3.2 Saran
Setelah mengetahui apa saja yang dibahas didalam makalah ini, para pembaca diharapkan dapat mengetahui dan memahami isi makalah ini yang berjudul “KRITIK SENI” yang mencakup pengertian, jenis-jenis, manfaat dan tahapan dalam kritik seni. Selain itu, para pembaca diharapkan dapat memperoleh pengetahuan tentang seni tidak hanya dari makalah ini saja, akan tetapi para pembaca juga diharapkan untuk menambah pengetahuannya melalui sumber-sumber yang lain, sehingga setiap sumber dapat saling melengkapi satu sama lain.

DARTAR PUSTAKA

Glewean,Kusuka.2014.Memahami kritik seni pengertian, jenis dan fungsi,

https://azzahra-official.com/contoh-makalah-kritik-seni/


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *