Contoh Makalah Sosiologi Pacaran dikalangan Remaja

MAKALAH SOSIOLOGI

PACARAN DIKALANGAN REMAJA

Disusun oleh :

Diana Pertiwi XII IPS 1

SMA N 1 TANJUNG BINTANG

TAHUN AJARAN 2014/2015

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Di kalangan remaja, seperti yang sedang kami alami saat ini, dorongan untuk mencari jati diri dengan mencoba hal-hal baru amatlah kuat. Dan terkadang jika ‘kelewatan’ bisa merusak akal sehat. Tekanan untuk menjalani masa ‘pacaran’ iming-iming dari orang-orang sekitar, dan siaran media masa-pun turut andil dalam keinginan remaja untuk menjalani sebuah masa ‘pacaran’.

Pacaran adalah kata yang tidak asing lagi ditelinga kita. Banyak faktor yang menyebabkan remaja berpacaran salah satu pendapat dari teman saya adalah karena sama-sama saling tertarik dan saling suka.Masa remaja adalah masa yang indah. Banyak hal yang terjadi pada masa transisi remaja dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Satu proses masa yang semua anak manusia telah, sedang dan akan teradi dalam sebuah proses tumbuh kembang remaja. Dunia remaja memang unik, sejuta peristiwa terjadi dan sering diciptakan dengan ide-ide cemerlang dan positif.

Namun demikian tidak sedikit juga hal-hal negatif yang terjadi. Salah satu hal yang menarik dan terjadi dalam dunia remaja adalah trend pacaran yang digemari sebagian remaja walau tidak sedikit juga orang dewasa gemar melakukannya.

Bahkan ada rumor yang menarik, bahwasanya bila ada remaja yang belum punya pacar berarti belum mempunyai identitas diri yang lengkap.

Memang tidak dapat dipungkiri bila pacaran merupakan fenomena tersendiri dikalangan remaja. Dan kalaupun dicari satu definisi tersendiri pacaran maka akan sulit. Sebagian ada yang mendifinisikan pacaran adalah ajang dari untuk mendapatkan kepuasan libido seksual, atau pacaran hanya sebagai label ”saya punya pacar dan dapat mendongkrak percaya diri”. Ataukah pacaran adalah suatu hal yang penting karena dengan pacaran kita punya seseorang yang bisa membantu kita dalam mengatasi persoalan hidup dan untuk definisi pacaran tentu akan ada banyak yang lainnya.Maka penulis memberi judul “PACARAN DIKALANGAN REMAJA”

1.2 Rumusan Masalah

  • Faktor-faktor apasaja yang menjadi penyebab remaja berpacaran?
  • Gaya pacaran dikalangan remaja?
  • Apa pengaruhnya terhadap sikap remaja sekarang?
  • Apa akibat dari pacaran?

1.3 Tujuan Penelitian

  • Mengetahui penyebab dari gaya pacaran
  • Dapat memahami gaya pacaran remaja sekarang

1.4 Manfaat Penelitian

  • Agar dapat menjelaskan kepada remaja penyebab dari gaya pacaran
  • Supaya remaja mengetahui bagaimana pacaran yang sehat

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pacaran

Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kekanakan menuju masa kedewasaan. Saat ini, pacaran sudah menjadi kebiasaan yang menjadi tradisi pada kalangan remaja. Bahkan terkadang remaja yang belum pernah berpacaran dikatakan ketinggalan zaman. Sebenarnya, pacaran itu bukanlah  sesuatu yang membuat remaja yang tidak berpacaran menjadi terbelakang. Karena pacaran secara harfiah sebenarnya bukanlah ditujukan untuk remaja. Melainkan untuk orang dewasa yang sudah mulai menuju ke jenjang pernikahan. Dengan melihat kenyataan ini, kami menanyakan beberapa pendapat dari teman-teman di sekolah, tentang definisi pacaran pada remaja menurut pandangan mereka masing-masing. Berikut beberapa diantaranya :

Pacaran adalah salah satu hubungan antara 2 sijoli, pria dan wanita dimana mereka berdua menjalin hubungan yang lebih dari sekedar pertemanan dan juga lebih dari sebuah persahabatan. Diantara mereka berdua saling mencintai dan melengkapi satu sama lain. – Farida sasmytha –

Pacaran itu adalah perasaan orang yang menempatkan lawan jenis (baik laki-laki maupun perempuan) di tempat yang spesial, yaitu dalam hati. – Tri wahyuni –

Pacaran itu adalah bagaimana seseorang belajar untuk bisa menghargai sikap dan menerima kekurangan orang lain. – Atlantiana Damayanti –

Pacaran adalah sebuah proses yang saling melengkapi dan saling memenuhi kekurangan masing-masing individu dengan kelebihan pasangannya serta proses saling introspeksi diri dan saling mengkoreksi kesalahan pasangan secara detail dan mendalam. – Muhammad Hafis –

Pacaran itu merupakan sesuatu yang sia-sia bagi remaja. Karena pacaran dapat menurunkan nilai bagi pelajar dan dapat membuat orang sakit hati. – Muhammad Nur Firdaus I. –

Pacaran itu adalah sebuah dosa, karena pacaran adalah hubungan yang dilarang dalam Islam. –Dimas riski –

Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan, definisi dari pacaran pada remaja saat ini adalah sebuah hubungan yang diawali dengan perdekatan dan ketertarikan diantara dua insan yang berlawanan jenis, yang dimulai dengan adanya kesepakatan antara kedua belah pihak.

Dari banyaknya pendapat tentang definisi pacaran, sehingga munculah dua golongan masyarakat, yang mengatakan bahwa pacaran merupakan hal yang dilarang, atau merupakan hal yang boleh-boleh saja dilakukan. Bagi remaja Islam, terkadang terjadi pertentangan mengenai pacaran tersebut.

Definisi pacaran yang sebenar-benarnya adalah “persiapan menikah”. Mengingat bahwa menikah merupakan langkah besar dalam kehidupan, kita pada umumnya takkan mungkin siap nikah tanpa mempersiapkannya. Sebagian ummat muslim menyangka bahwa kita bisa siap menikah tanpa pacaran lebih dahulu.

Ada juga yang mengharamkan pacaran sebelum menikah karena menyangka bahwa “bentuk pacaran pasti tidak lepas dari perkara-perkara haram, khususnya zina”. Persangkaan mereka ini adalah keliru !

  1. Katanya, “Pacaran adalah jalan menuju zina”. Mereka menunjukkan ayat “Dan janganlah kamu mendekati zina…” (QS Al Isra’: 32). Namun, mereka sama sekali tidak menyodorkan bukti yang meyakinkan bahwa pacaran itu identik dengan “jalan menuju zina”.

Bila ditinjau secara umum remaja jatuh cinta kepada lawan jenis karena beberapa hal antara lain:

a) Karakter

b) Fisik

c) Agama

d) Harta

e) Perhatian yang diberikan

Kelley dalam Burhan Shadiq membagi cinta menjadi tiga macam yaitu :

a. Cinta nafsu

Cinta jenis ini cenderumg tak terkontrol karena hubungan antara dua orang yang dikuasai oleh emosi.

b. Cinta pragmatis

Cinta jenis ini cenderung dapat mengontrol perasaan.

Gaya pacaran para remaja zaman sekarang yang cenderung tidak sehat, memiliki banyak sekali dampak negatif antara lain:

  • Meningkatnya tingkat aborsi

Bila seorang remaja putri pacaran dan dia terlanjur hamil akan teteapi kekasihnya tidak mau bertanggung jawab maka jalan yang ia tempuh adalah aborsi (menggugurkan kandungan). Zinanya saja sudah dosa besar, sekarang dia malah membunuh nyawa yang tidak berdosa.

  • Meningkatnya tingkat kematian wanita.

Hasil dari gaya pacaran yang tidak sehat salah satunya adalah kematian. Karena aborsi yang dilakukan oleh para remaja biasanya bersifat sembarang. Konon lagi dengan bantuan dukunyang tidak mendapatkan pengetahuan medis.

  • Adanya Free sex.

Hal yang lebih mengerikan lagi akibat dari pacaran yang tidak sehat adalah seks bebas (freesex). Mereka pertama melakukan hal yang terlarang itu tetapi kemudian mereka cenderung ketagihan.

  • Menyebarkan penyakit.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dampak dari seks bebas adalah mewabahnya berbagai jenis penyakit kelamin seperti HIV/ AIDS, sipilis dan penyakit kelamin lainnya

  • Meningkatnya penggunaan narkoba

Pada usia remaja adalah usia di saat dimana seseorang mencari jati diri. Pada usia ini akan sangat rentan akan berbagai hal salah satunya adalah lingkungan. Pacar adalah salah satunya, bila pacarnya adalah pengguna narkoba maka kemungkinan besar dia juga akan terseret

  • Meningkatnya kriminalitas.

Akan tetapi dilain pihak pacaran juga dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan kita antara lain :

  1. Problema cinta seperti patah hati, naksir dan perselingkuhan bisa menjadi sebuah pengalaman yang mendukung kita menjadi lebih dewasa dan matang.

  2. Pacar bisa memberikan motivasi kepada kita agar dapat berpikir kedepan.
  3. Dengan cinta dapat mengubah perilaku seseorang menjadi lebih progresif. Misalnya seseorang yang tadinya malas belajar mendadak jadi rajin belajar karena dorongan dari sang pacar.

  4. Belajar mengenal dan menerima orang lain dalam kehidupan pribadi.

Orang yang berpacaran biasanya akan menghabiskan banyak waktu dengan pacarnya, terlebih momen-momen liburan. Tahukah bahwa sebenarnya orangtua pun menginginkan kebersamaan dengan anaknya? Entah dengan berekreasi bersama, berkebun bersama, membuat kerajinan atau yang lain-lain. Namun disisi lain kita malah menghabiskan waktu dengan oranglain.

Tak jarang orangtua menjadi sedih dan merasa dianggap tidak penting. Tapi kalau tidak mau pergi bersama pacar, nanti pacar marah. Coba kalau ditanya balik kepada para remaja yang berpacaran, lebih berdosa yang mana, membuat orangtua sedih dan marah atau membuat pacar marah ? Bagaimanapun juga akal sehat akan lebih memilih untuk tidak membuat orangtua sedih dan marah. Namun terkadang setan lebih lihai dalam menjerumuskan manusia.

Ada beberapa tahapan dalam berpacaran;

  • Tahap ketertarikan

Dalam tahap ini tantangannya adalah bagaimana mendapatkan kesempatan untuk menyatakan ketertarikan dan menilai orang lain. Munculnya ketertarikan kita sama

seseorang, misalnya, karena penampilan fisik (dia ganteng/cantik, tinggi, dsb), kemampuan (pintar), karakteristik atau sifat (sabar, cool, periang) dan lain-lain. Menurut para ahli, umumnya cowok pada pandangan pertama lebih tertarik pada penampilan fisik. Sedangkan cewek lebih kepada karakteristik atau kemampuan yang dimiliki cowok.

  • Tahap ketidakpastian

Pada masa ini sedang terjadi peralihan dari rasa tertarik ke arah rasa tidak pasti. Maksudnya, kita mulai bertanya-tanya apakah dia benar-benar tertarik sama kita atau sebaliknya apakah kita benar-benar tertarik sama dia. Pada tahap ini kita mendadak ragu apakah mau melanjutkan hubungan atau tidak. Kalau kita tidak mampu memahami tahapan ini, kita akan mudah berpindah dari satu orang ke orang lainnya.

  • Tahap komitmen dan keterikatan

Pada tahap ini yang timbul adalah keinginan kita kencan dengan seseorang secara eksklusif. Kita menginginkan kesempatan memberi dan menerima cinta dalam suatu hubungan yang khusus tanpa harus bersaing dengan orang lain. Kita juga ingin lebih rileks dan punya banyak waktu untuk dilewatkan bersamanya. Seluruh energi digunakan untuk menciptakan saling cinta dan hubungan yang harmonis.

  • Tahap keintiman

Dalam tahap ini mulai dirasakan keintiman yang sebenarnya, merasa lebih rileks untuk berbagi lebih mendalam dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan merupakan kesempatan untuk lebih mengungkapkan diri kita. Tantangannya adalah menghadapi sisi yang kurang baik dari diri kita. Tanpa pemahaman yang baik bahwa cowok dan cewek mempunyai reaksi yang berbeda terhadap keintiman, kita akan mudah mengambil kesimpulan yang salah bahwa terlalu banyak perbedaan antara kita dan dia untuk melanjutkan hubungan.

Untuk mengantisipasi persoalan-persoalan dalam pacaran agar dampaknya tidak lebih buruk lagi diperlukan suatu penanganan, antara lain :

  • Mensosialisasikan gaya pacaran sehat.

Gaya pacaran sehat mengambil konsep yang positif, dimana remaja akan sehat fisik, tidak meruasak diri sendiri dan orang lain.

  • Memberikan informasi yang cukup mengenai seks.

Pendidikan seks adalah suatu hal yang penting agar remaja sejak dini mengetahui tentang pendidikan seks.

  • Menggunakan aspek agama.

Dalam hal ini remaja harus mempertimbangkan aspek agama, yang melarang tindakan seksualitas diluar nikah.

  • Menggunakan aspek budaya.

Budaya yang ketimuran perlu diajarkan pada remaja.

  1. Menggunakan pendekatan, tindakan represif, kuratif dan rehabilitasi.
  2. Menyediakan sarana-sarana tempat remaja mengaktualisasikan bakat dan potensi.

Pacaran yang sehat dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Saling terbuka, mau berbagi pikiran dan perasaan secara terbuka, jujur, mau berterus terang dengan perasan kita terhadap tingkah laku pacar. Siap nerima kritik dan kompromi.

  2. Menerima pacar apa adanya yang dilandasi oleh perasaan sayang. Tidak menuntut sesuatu yang berada di luar kemampuannya.

  3. Saling menyesuaikan. Kalau dalam proses ini terlalu sering ribut, maka sangat perlu mempertimbangkan kemungkinan berpisah karena mungkin memang tidak cocok.

  4. Tidak melibatkan aktivitas seksual karena dapat mengaburkan proses saling mengenal dan memahami satu sama lain.

  5. Mutual dependensi, masing-masing merasakan adanya saling ketergantungan satu sama lain. Oleh karena itu, diharapkan kita dan pacar mampu melengkapi kekurangan, sedangkan kelebihan yang dimiliki diharapkan mampu menutupi kekurangan pasangan.

  6. Mutual respect, saling menghargai satu sama lain dalam posisi yang setara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *