Makalah Interaksi Antar Umat Beragama

MAKALAH

INTERAKSI ANTAR UMAT BERAGAMA

DISUSUN OLEH :

AUREL LATISHA

MTS AL-IKHLAS TANJUNG BINTANG

LAMPUNG SELATAN

TAHUN AJARAN 2017/2018

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang, kami panjatkan puji syukur atas kehadiratnya yang telah melimpahkan rahmat hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini telah kami susun dengan maksimal dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………. 1
DAFTAR ISI………. 2

BAB I

PENDAHULUAN………. 3
LATAR BELAKANG……….. 3

BAB II

PEMBAHASAN………. 4
MACAM MACAM AGAMA………. 4

BAB III……….. 5
INTERAKSI ANTAR UMAT BERAGAMA………… 5
INTERAKSI ANTAR UMAT BERBEDA AGAMA…………. 5
INTERAKSI ANTAR UMAT DENGAN PEMERINTAH…………… 6
DAFTAR PUSTAKA…………. 8

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG

Kehidupan beragama pada dasarnya merupakan kepercayaan terhadap keyakinan yang berasal dari nenek moyang, keyakinan yang kuat dan luar biasa itu sangat berpengaruh terhadap kehidupan individu da masyarakat dimana efek-efek dari sebuah kepercayaan itu akan membawa mereka kepada suatu keyakinan

Sebagai mana yang kita ketahui, agama budha telah ada dan dianuti oleh masyarakat Indonesia sejak jaman kerajaan-kerajaan teristimewa pada masa sriwijaya dan keprabuhan majapahit, candi Borobudur, candi mendut candi pawon dll, adalah sebuah bukti peninggalan yang nyata dari perkembangan agama budha di Indonesia

Kehidupan beragama adalah kenyataan hidup yang di temukan peribadinya kepercayaan itu hingga kini kebenaranya telah menjadi kepercayaan keagamaan atau kepercayaan.

Mengadakan  upacara upacara pada momen tertentu seperti pernikahan, kelahiran, kematian juga juga berlangsung dari dahulu sapai zaman modern  upacara keagaman ada yang bersifatritual dan ada yang bersifat sereminial dalam upacara ritual pola perbedaan ritualpada dasarnya merupakan simbolis, keyakinan diri pada sesuatu yang sianggap agung dan dikatakan ahwa ritual agama merupakan tindakan.

BAB II

PEMBAHASAN

A. MACAM MACAM AGAM

1. Agama Islam Agama islam termasuk salah satu agama besar di dunia dan merupakan agama dengan jumlah penganut terbesar di Indonesia berdasarkan pada hasil sensus tahun 2010, 87 % dari 237.641.326 penduduk Indonesia adalah pemeluk agama islam, tempat ibadah bagi penganut agama islam adalah masjid setiap harinya mereka menjalankan sholat wajib sebanyak 5 kali di masjid

2. Agama Kristen protestan Agama Kristen juga merupakan agama yang besar dan memiliki jumlah pemeluk yang jumlahnya besar di dunia di Indonesia sendiri menurut hasil sesus 2010 jumlah pemeluk agama Kristen di Indonesia mencapai 6,96% dari 237.641.326 jumlah penduduk, tempat ibadah bagi pemeluk agama Kristen protestan adalah gereja

3. Agama katolik Jumlah pemeluk agama katolik di Indonesia berdasarkan hasil sensus tahun 2010 mencapai 2,9% dari 237.641.326 jumlah penduduk, tempat ibadah bagi pemeluk agama khatolik adalah gereja kapel

4. Agama hindu Jumlah pemeluk agama hindu di Indonesia mencapai 1.69% dari 237.641.326 jumlah penduduk, tempat ibadah pemeluk agam hindu adalah pura

5. Agama budha Jumlah pemeluk agama budha di Indonesia berdasarkan sensus tahun 2010 mencapai 0.72% dari jumlah penduduk 237.641.326, tempat ibadah bagi pemeluk agama budha adalah vihara

6. Agama kong hu cu Jumlah pemeluk agama kong hu vu mencapai 0.05% di Indonesia, tempat beribadah pemeluk agama kong hu cu adalah uatang / klenteng

BAB III

1. INTERAKSI ANTAR UMAT BERAGAMA

a. Pengertian interaksi social

Interaksi social adalah hubungan antar aksi (interaksi) social yang terjadi dalam kehidupan sehari hari secara terus menerus, interaksi social dimaksud sebagai timbale balik antara dua belah pihak yaitu individu satu dengan individu kelompok yang lainya dalam rangka mencapai tujuan tertentu

Interaksi dapat di artikan seagai hubungan sisial yang dinamis dapat berupa
– Hubungan antar individu dengan individu lainya
– Hubungan antar kelompok dengan kelompok lainya
– Hubungan antar krlompok dengan individu

b. Bentuk bentuk interakasi social
Didalam kajian sosiologi decara garis besar dibagi dalam dua bentuk yaitu proses asosiatif dan proses disososiatif adapun proses asosiatif dibagi dalam 3 macam yaitu
– Kerja sama
– Akomodasi
– Asimilasi
Sedangkan proses disososiatif dibagi dalam 3 bentuk yaitu
– Persaingan
– Kontroversi
– Pertentangan atau pertikaian ( konflik )

2. INTERAKSI ANTAR UMAT BERBEDA AGAMA

Menjunjung tinggi toleransi antar umat Beragama di Indonesia. Baik yang merupakan pemeluk Agama yang sama, maupun dengan yang berbeda Agama. Rasa toleransi bisa berbentuk dalam macam-macam hal. Misalnya seperti, pembangunan tempat ibadah oleh pemerintah, tidak saling mengejek dan mengganggu umat lain dalam interaksi sehari – harinya, atau memberi waktu pada umat lain untuk beribadah bila memang sudah waktunya mereka melakukan ibadah. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menunjukkan sikap toleransi. Hal ini sangat penting demi menjaga tali kerukunan umat beragama di Indonesia, karena jika rasa toleransi antar umat beragama di Indonesia sudah tinggi, maka konflik – konflik yang mengatasnamakan Agama di Indonesia dengan sendirinya akan berkurang ataupun hilang sama sekali.Selalu siap membantu sesama dalam keadaan apapun dan tanpa melihat status orang tersebut. Jangan melakukan perlakuan diskriminasi terhadap suatu agama, terutama saat mereka membutuhkan bantuan. Misalnya, di suatu daerah di Indonesia mengalami bencana alam. Mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Kristen. Bagi Anda yang memeluk agama lain, jangan lantas malas dan enggan untuk membantu saudara sebangsa yang sedang kesusahan hanya karena perbedaan agama. Justru dengan membantu mereka yang kesusahan, kita akan mempererat tali persaudaraan sebangsa dan setanah air kita, sehingga secara tidak langsung akan memperkokoh persatuan Indonesia.Hormatilah selalu orang lain tanpa memandang Agama apa yang mereka anut. Misalnya dengan selalu berbicara halus dan sopan kepada siapapun. Biasakan pula untuk menomor satukan sopan santun dalam beraktivitas sehari harinya, terlebih lagi menghormati orang lain tanpa memandang perbedaan yang ada. Hal ini tentu akan mempererat kerukunan umat beragama di Indonesia.Bila terjadi masalah yang membawa nama agama, tetap selesaikan dengan kepala dingin dan damai, tanpa harus saling tunjuk dan menyalahkan. Para pemuka agama, tokoh masyarakat, dan pemerintah sangat diperlukan peranannya dalam pencapaian solusi yang baik dan tidak merugikan pihak – pihak manapun, atau mungkin malah menguntungkan semua pihak. Hal ini diperlukan karena di Indonesia ini masyarakatnya sangat beraneka ragam.

3. INTERAKSI ANTAR UMAT DENGAN PEMERINTAH

Menunjuk pada adanya agama-agama dalam satu negara. Artinya, pada satu negara ada banyak agama, namun mereka diberi hak dan kebebasan yang sama untuk melayani pemeluknya, melakukan ibadah, mengembangkan agamanya, dan juga membangun sarana ibadahnya. Di dalamnya termasuk negara Agama adalah hak paling dasar dari manusia yang harus dihormati dan dilindungi oleh siapapun bahkan oleh negara.

juga perlu memiliki sosok yang ditiru kepribadiannya. Seseorang yang pantas ditiru tersebut tentu saja seseorang yang memiliki nilai pribadi yang relegius. Mereka akan bersifat jujur, adil, dan mampu membimbing masyarakat kearah hidup yang lebih baik. Mementingkan, mengutamakan, memperhatikan salah satu agama sambil mengesampingkan yang lain. Akan tetapi, negara memberi kesempatan yang sama kepada agama-agama untuk pelayanan dan kesaksian kepada umatnya serta masyarakat dan bangsa secara luas.
Negara dan Agama saling membantu, menolong, dan kerja sama untuk mensejahterahkan masyarakat. Negara menjadi fasilitator dalam kebebasan beragama dan toleransi antar umat beragama. Bahkan ada kesempatan bagi tokoh-tokoh agama untuk menegur pemimpin negara jika mereka melakukan penyimpangan, ketidakjujuran, ketidakadilan, korupsi, kolusi, nepotisme, dan hal-hal lain yang menyakiti rakyat.
Dilihat secara keseluruhan, tujuan seseorang beragama rata-rata untuk mencari ketenangan batin. Pendapat lain mengatakan bahwa faktor emosional seseorang mempengaruhi penghayatannya terhadap agama, misalnya sebagian lelaki kurang menghayati agama dibandingkan wanita karena terlalu mendahulukan rasional.
Agama memberi makna pada kehidupan individu dan kelompok juga memberikan kelanggengan hidup sesudah kematian. Agama dapat menjadi sarana manusia untuk mengangkat diri kehidupan duniawi yang penuhh penderitaan, menuju kemandirian spiritual. Agama memperkuat norma-norma pokok, sanksi moral perbuatan perorangan, dan menjadi dasar persamaan tujuan nilai-nilai landasan keseimbangan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Azra, Azyumardi. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu. 1999


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *