Toleransi dan Bahayanya Kekerasan, Tugas Pendidikan Agama Islam

INDAHNYA TOLERANSI DAN BAHAYA KEKERASAN

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, Toleransi yang berasal dari kata “toleran” itu sendiri berarti bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan), pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dan sebagainya) yang berbeda dan atau yang bertentangan dengan pendiriannya.Toleransi juga berarti batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan.Dalam bahasa Arab, toleransi biasa disebut “ikhtimal, tasamuh” yang artinya sikap membiarkan, lapang dada. Jadi, toleransi (tasamuh) beragama adalah menghargai dengan sabar, menghormati keyakinan atau kepercayaan seseorang atau kelompok lain.

Kesalahan memahami arti toleransi dapat mengakibatkan talbisul haqbil bathil (mencampur adukan antara hak dan bathil) yakni suatu sikap yang sangat terlarang dilakukan seorang muslim, seperti halnya nikah antar agama yang dijadikan alasan adalah toleransi padahal itu merupakan sikap sinkretisme yang dilarang oleh Islam. Sinkretisme adalah membenarkan semua agama.

Beberapa waktu lalu, wajah keberagaman kita tercoreng kembali setelah penyerangan terhadap jamaah Ahmadiyah di Pandeglang, Banten yang menjadi sasaran kekerasan orang – orang yang berbeda keyakinan. Tiga orang jemaah tewas, dan puluhan lainnya luka – luka, dan banyak bangunan rusak parah akibat amukan ribuan massa. Sungguh, kekerasan tak pernah berujung solusi.

Mahatma Gandhi dengan Ahimasnya telah membuktikan, melawan dengan kekerasan tidak pernah berujung dengan perdamaian. Kekerasan yang mengatasnamakan agama tidak pernah lahir sebagai perintah dari langit. Ia muncul karena orang yang memeluk agama dikepung oleh kata benci terhadap kelompok lain.

Itulah yang menyumbat indahnya sikap beragama dengan toleransi. Ada tiga pola dimensi beragama yang mempengaruhi sikap keagamaan seseorang. Pertama, supernatural dan transcendental. Pola ini adalah pola hubungan pemeluk agama dengan kekuatan suprastruktur diluar dirinya seperti meyakini sifat-sifat imajiner Tuhan, menginspirasi para Nabi, dan meneladani tokoh-tokoh spiritual yang dianggap berpengaruh dalam kehidupannya. Kedua, pola komunikasi internal. Pemeluk agama secara psikologis membangun keyakinan,mereka saling meyakinkan, meneguhkan keimanan dan praktek kesolehan. Pola ini termasuk pola ketegangan dan bahkan menumbuhkan kesejukan. Ketiga, pola komunikasi eksternal,orang akan mudah bersikap represif karena bertemu dengan kelompok lain yang berbeda identitas dan keyakinan.

Dimensi ini sarat konflik dan ketegangan. Apalagi kepercayaan orang lain itu dianggap sebagai keyakinannya. Dalam tiga aras dimensi beragama itulah, toleransi tersumbat. Satu tawaran dari buku ini untuk keluar dari tersumbatnya kehidupan beragama yang intoleran itu adalah dengan mengintegrasikan ketiga dimensi itu dalam satu terminology : teologi pluralisme.

Fanatisme beragama timbul karena selain latar belakang sosial, politik, ekonomi dan budaya, juga disebabkan oleh runtuhnya sikap saling menghargai. Dalam pluralisme teologis,berkomunikasi dengan Tuhan itu sinergis dengan komunikasi dengan sesama umat beragama (internal) dan antarumat beragama (eksternal).

Pluralisme seperti ini adalah sebuah kesadaran teologis yang menganggap sah setiap keyakinan kita, namun tetap ada kemungkinan mengandung kesalahan. Sebaliknya, keyakinan orang lain mungkin saja sah dianggap salah, tetapi ada kemungkinan terkandung kebenaran. Sesuatu yang dipegang bukan sah dan benar, melainkan Tuhan. Menyembah Tuhan adalah laku pluralisme. Pluralisme bukan “menyembah” fanatisme kebenaran.

Secara doktrinal, toleransi sepenuhnya diharuskan oleh Islam. Islam secara definisi adalah “damai”, “selamat” dan “menyerahkan diri”. Definisi Islam yang demikian sering dirumuskan dengan istilah “Islam agama rahmatal lil’ālamîn” (agama yang mengayomi seluruh alam). Ini berarti bahwa Islam bukan untuk menghapus semua agama yang sudah ada. Islam menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati. Islam menyadari bahwa keragaman umat manusia dalam agama dan keyakinan adalah kehendak Allah, karena itu tak mungkin disamakan. Dalam al-Qur’an Allah berfirman yang artinya, “Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki,tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?

Di bagian lain Allah mengingatkan, yang artinya: “Sesungguhnya ini adalah umatmu semua (wahai para rasul), yaitu umat yang tunggal, dan aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah olehmu sekalian akan Daku (saja). Ayat ini menegaskan bahwa pada dasarnya umat manusia itu tunggal tapi kemudian mereka berpencar memilih keyakinannya masing-masing. Ini mengartikulasikan bahwa Islam memahami pilihan keyakinan mereka sekalipun Islam juga menjelaskan “sesungguhnya telah jelas antara yang benar dari yang bathil”.

 

Selanjutnya, di Surah Yunus Allah menandaskan lagi, yang artinya: “Katakan olehmu (ya Muhamad), ‘Wahai Ahli Kitab! Marilah menuju ke titik pertemuan (kalimatun sawā atau common values) antara kami dan kamu, yaitu bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak pula memperserikatkan-Nya kepada apa pun, dan bahwa sebagian dari kita tidak mengangkat sebagian yang lain sebagai “tuhan-tuhan” selain Allah!”  Ayat ini mengajak umat beragama (terutama Yahudi, Kristiani, dan Islam) menekankan persamaan dan menghindari perbedaan demi merengkuh rasa saling menghargai dan menghormati. Ayat ini juga mengajak untuk sama-sama menjunjung tinggi tawhid, yaitu sikap tidak menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Jadi, ayat ini dengan amat jelas menyuguhkan suatu konsep toleransi antar-umat beragama yang didasari oleh kepentingan yang sama, yaitu ‘menjauhi konflik’.

Saling menghargai dalam iman dan keyakinan adalah konsep Islam yang amat komprehensif. Konsekuensi dari prinsip ini adalah lahirnya spirit taqwa dalam beragama. Karena taqwa kepada Allah melahirkan rasa persaudaraan universal di antara umat manusia. Abu Ju’la  dengan amat menarik mengemukakan, “Al-khalqu kulluhum ‘iyālullāhi fa ahabbuhum ilahi anfa’uhum li’iyālihi” (“Semu makhluk adalah tanggungan Allah, dan yang paling dicintainya adalah yang paling bermanfaat bagi sesama tanggungannya”).

Selain itu, hadits Nabi tentang persaudaraan universal juga menyatakan, “irhamuu man fil ardhi yarhamukum man fil samā” (sayangilah orang yang ada di bumi maka akan sayang pula mereka yang di lanit kepadamu).  Persaudaran universal adalah bentuk dari toleransi yang diajarkan Islam. Persaudaraan ini menyebabkan terlindunginya hak-hak orang lain dan diterimanya perbedaan dalam suatu masyarakat Islam. Dalam persaudaraan universal juga terlibat konsep keadilan, perdamaian, dan kerja sama yang saling menguntungkan serta menegasikan semua keburukan.

Fakta historis toleransi juga dapat ditunjukkan melalui Piagam Madinah.  Piagam ini adalah satu contoh mengenai prinsip kemerdekaan beragama yang pernah dipraktikkan oleh Nabi Muhamad SAW di Madinah. Di antara butir-butir yang menegaskan toleransi beragama adalah sikap saling menghormati di antara agama yang ada dan tidak saling menyakiti serta saling melindungi anggota yang terikat dalam Piagam Madinah.

Sikap melindungi dan saling tolong-menolong tanpa mempersoalkan perbedaan keyakinan juga muncul dalam sejumlah Hadis dan praktik Nabi. Bahkan sikap ini dianggap sebagai bagian yang melibatkan Tuhan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan  dalam Syu’ab al-Imam, karya seorang pemikir abad ke-11, al-Baihaqi, dikatakan: “Siapa yang membongkar aib orang lain di dunia ini, maka Allah (nanti) pasti akan membongkar aibnya di hari pembalasan”.

Namun, prinsip yang mengakar paling kuat dalam pemikiran Islam yang mendukung sebuah teologi toleransi adalah keyakinan kepada sebuah agama fitrah, yang tertanam di dalam diri semua manusia, dan kebaikan manusia merupakan konsekuensi alamiah dari prinsip ini. Dalam hal ini, al-Qur’an menyatakan yang artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu ke arah agama menurut cara (Allah); yang alamiah sesuai dengan pola pemberian (fitrah) Allah, atas dasar mana Dia menciptakan manusia…”

Dilihat dari argumen-argumen di atas, menunjukkan bahwa baik al-Qur’an maupun Sunnah Nabi secara otentik mengajarkan toleransi dalam artinya yang penuh. Ini jelas berbeda dengan gagasan dan praktik toleransi yang ada di barat. Toleransi di barat lahir karena perang-perang agama pada abad ke-17 telah mengoyak-ngoyak rasa kemanusiaan sehingga nyaris harga manusia jatuh ke titik nadir. Latar belakang itu menghasilkan kesepakatan-kesepakatan di bidang Toleransi Antar-agama yang kemudian meluas ke aspek-aspek kesetaraan manusia di depan hukum.

Dalam islam Indonesia sendiri juga sangat menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama, khususnya dalam pandangan islam sendiri caranya yaitu dengan  gencarnya suara pembaruan pemikiran islam yang dicanangkan oleh para pembaru muslim dari berbagai negara Mesir, India, Turki sampai juga pembaruan itu ke Indonesia. Salah satu dampak dari “ suara pembaruan” itu adalah munculnya pembaruan di bidang pendidikan islam. Di awal abad kedua puluh muncullah ide-ide pembaruan pendidikan di Indonesia, terdapat beberapa sisi yang dapat diperbaharui pertama dari segi isi (materi), kedua dari segi metode.

Dari segi isi yang disampaikan sudah ada keinginan untuk memasukkan materi pengetahuan umum ke dalam isi pengajaran pada ketika itu. Dari vsegi metode tidak lagi hanya menggunakan metode sorogan, wetonan,hafalan, tetapi diinginkan adannya metode-metode baru yang sesuai dengan perkembangan zaman.Ada dua hal yang melatarbelakangi hal tersebut, yang pertama daya dorong dari ajaran islam itu sendiri yang mendorong umat islam belakangi hal tersebut, yang pertama daya dorong dari ajaran islam itu sendiri yang mendorong umat islam belakangi hal tersebut, yang pertama daya dorong dari ajaran islam itu sendiri yang mendorong umat islam untuk memotivasi umatnya guna melakukan pembaruan (tadjid) dan juga keadaan umat islam Indonesia yang jauh tertinggal dalam bidang pendidikan. Kedua, daya dorong yang muncul dari para pembaru pemikiran islam yang diinspirasi dari berbagai tokoh-tokoh pembaru pemikiran islam pada masa itu.

Ide dan inti dari pembaruan itu adalah berupaya meninggalkan pola pemikiran lama yang tidak sesuaa lagi dengan kemajuan zaman dan berupaya meraih aspek-aspek yang menopang untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman. Degan daya dorong itulah maka mulai muncul ide untuk memasukkan mata pelajaran umum ke lembaga-lembaga pendidikan islam serta mengubah metode pengajaran lama kepada metode yang lebih adaptif dengan perkembangan zaman.

Perjalanan sejarah pendidikan islam di Indonesia hingga saat ini telah melalui tiga periodesasi. Pertama, periode awal sejak kedatangan islam ke Indonesia sampai masuknya ide-ide pembaruan pemikiran islam awal abad ke20. Periode ini di tandai dengan pendidikan islam yang terkonsentrasi di pesantren,dayah, surau atau masjid dengan titik fokus adalah ilmu-ilmu agana yang bersumber dari kitab-kitab klasik. Periode kedua, periode ini telah dimasuki oleh ide-ide pembaruan pemikiran islam pada awal abad 20. Periode ini ditandai dengan lahirnya madrasah.

Kekerasan dalam bahasa Inggris:Violence dalam bahasa Latin: violentus yang berarti kekuasaan atau berkuasa adalah dalam prinsip dasar dalam hukum publik dan privat merupakan sebuah ekspresi baik yang dilakukan secara ataupun secara yang mencerminkan pada tindakan dan penyerangan pada kebebasan atau martabat seseorang yang dapat dilakukan oleh perorangan atau sekelompok orang.

Islam Anti Kekerasan

Islam adalah agama yang diturunkan Tuhan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Pesan kerahmatan dalam Islam benar-benar tersebar dalam teks-teks Islam baik al Qur’an maupun hadits.

Kata Rahmah, Rahman, Rahim dan derivasinya disebut berulang-ulang dalam jumlah yang begitu besar. Jumlahnya lebih dari 90 ayat. Maknanya adalah kasih dan sayang.

Dalam sebuah hadits Qudsi Tuhan menyatakan : “Ana Al-Rahman. Ana al-Rahim” (Aku Sang Maha Kasih. Aku Sang Maha Sayang).

Al Qur’an secara sangat tegas menyebutkan bahwa agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah agama “rahmatan li al ‘alamin” :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Aku tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai (penyebar) kasih sayang bagi semesta” (Q.S. al-Anbiya, 107).

Allah swr. telah memberikan kesaksian sekaligus merestui cara-cara atau metode penyebaran Islam yang dijalankan Nabi saw. tersebut sambil menganjurkan agar dia meneruskannya. 

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.(Q.S. Ali Imran, 3 :159).

Pernyataan ini tentu saja seharusnya menginspirasi kita untuk melakukan langkah-langkah atas kehendak Islam universal itu. Yakni mewujudkan sebuah tatanan kehidupan manusia yang didasarkan pada pengakuan atas kesederajatan manusia di hadapan hukum, penghormatan atas martabat, persaudaraan, penegakan keadilan, pengakuan atas pikiran dan kehendak orang lain, dialog secara santun serta kerjasama saling mendukung untuk sebuah perwujudan kehendak-kehendak bersama. Ini adalah pilar-pilar kehidupan bersama yang selalu dirindukan oleh setiap manusia di manapun dan kapanpun, tanpa harus mempertimbangkan asal usul tempat kelahiran, warna kulit, bahasa, jenis kelamin, keturunan, keyakinan agama dan sebagainya.

Pilar-pilar banyak dikemukakan dengan sangat jelas dalam al Qur’andan dalam Hadits Nabi saw.

Dari dalil Al-Qur’an al nisa ayat 1 menegaskan:

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi .

Pada ayat al Qur’an yang lain kita menemukan sebuah pernyataan Tuhan yang lain tentang misi kenabian Muhammad saw. : “dia mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju dunia yang bercahaya”(yukhrijuhum min al zhulumat ila al nur). Ini sama artinya dengan mengatakan bahwa tugas Nabi Muhammad adalah membebaskan manusia dari ketertindasan sistem sosial, budaya politik dan ekonomi dan menciptakan sistem sosial yang bebas, berkeadilan, berkesetaraan dan dalam persaudaraan kemanusiaan.

Nabi Muhammad saw pernah menyatakan :

“Manusia adalah sederajat (setara) bagaikan gigi-gigi sisir. Tidak ada keistimewaan antara manusia Arab dari manusia non Arab kecuali karena ketakwaannya”.

Sangat meyakinkan bahwa tidak ada teks-teks keagamaan lama maupun baru yang membicarakan prinsip-prinsip kemanusiaan secara begitu mempesona berani, mendalam, fasih seperti teks-teks Islam di atas. Ini semua sesungguhnya merupakan konsekwensi paling logis dari doktrin Tauhid, sebuah keyakinan monoteisme paling sentral dalam sistem Islam.Sejauh yang dapat ditelurusi dari kehidupan Nabi Muhammad, telah ditemukan fakta-fakta historis bahwa prinsip-prinsip kemanusiaan Islam (baca : kerahmatan Islam) tidak hanya muncul sebagai wacana yang dikhutbahkan atau dipidatokan di mana-mana, melainkan juga telah menjadi sikap dan perilaku keseharian beliau dan para sahabat-sahabatnya. Bahkan Tuhan sungguh-sungguh memberikan kesaksian atas perilaku pribadi Nabi sebagaimana diungkapkan dalam firman-Nya  : “Wa innaka la’ala Khuluqin ‘Azhim”,(kamu,sungguh, berjalan di atas moral yang luhur).

Al-Imam Al-Ghazali, pemikir muslim klasik terbesar mengatakan bahwa tujuan agama adalah kesejahteraan sosial (kemaslahatan). Al-Ghazali selanjutnya merumuskan makna ini: “kemaslahatan menurut saya adalah mewujudkan tujuan-tujuan agama yang memuat lima bentuk perlindungan. Yaitu perlindungan terhadap ; agama (hifzh al din), jiwa dan tubuh (hifzh al nafs), akal-pikiran (hifzh al ‘aql), keturunan (hifzh al nasl) dan harta benda (hifzh al maal). Segala cara yang dapat menjamin perlindungan terhadap lima prinsip ini adalah kemaslahatan dan mengesampingkannya adalah kerusakan (mafsadah), menolak kerusakan adalah kemaslahatan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *